Jangan Sampai Nafsu Menguasai Diri Kita Jika Tidak Ingin Menimbulkan Gejolak Kehidupan

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Motivasi" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali


Taani sarvaani samyamya, Yakut asita matparah.

Vase hi yasye'mdriyani, Tasya prajna pratisthita

(Bhagawad Gita II. 61)


Maksudnya : Dengan dapat menguasai semua hawa nafsunya, ia dapat tetap teguh memusatkan pikiran padaKu dalam yoga. Karena itu ia yang dapat menguasai hawa narsunya adalah orang yang bijaksana. Kebijaksanaan timbul dari penguasaan hawa nafsu.


Kalau dididik dan dilatih, justru nafsu itulah sebagai ujung tombak bagi manusia untuk berbuat baik dan menikmati kehidupan yang bahagia. Ibarat kuda yang terlatih mengendalikan kereta. Kuda yang terlatih dengan baik itulah yang akan membawa seseorang mencapai tujuan yang dicita-citakan. Kalau tidak dilatih dengan sebaik-baiknya, justru kuda itulah yang akan membawa seseorang terjerumus ke dalam jurang penderitaan.


Kalau diperhatikan kutipan Sloka Bhagawad Gita itu di awal tulisan ini, di situ dinyatakan "dapat menguasai semua (nafsunya)" (taani sarvaani samyamya). Dalam Sloka itu tidak disebutkan membunuh nafsu. Nafsu itu diberikan oleh Tuhan untuk makhluk hidup, termasuk manusia. Jadi, nafsu itu tentu ada gunanya bagi kehidupan manusia. Agar ia berguna dengan baik, latihlah hawa nafsu itu dengan menguatkan kecerdasan intelektual dan kesadaran budhi dengan sinar suci atman yang bersemayam dalam diri setiap orang. Setiap permintaan yang muncul dari nafsu hendaknya dianalisa dengan kecerdasan intelektual dan kesadaran budhi terlebih dahulu. Jangan setiap permintaan dari nafsu itu dipenuhi tanpa analisa.


Di sinilah pentingnya latihan tapa, brata, yoga dan samadhi. Melatih lidah tidak menikmati makanan seenaknya dan bicara seenaknya. Melatih telinga untuk tidak mendengar yang enak-enak saja. Demikian juga mata, hidung, dan lain-lainnya. Nafsu yang dipenuhi terus tanpa analisa, lama kelamaan akan menguasai dan mengatur hidup kita.


Nafsu yang terkendali justru akan memberikan makna yang luas dalam hidup. Kalau nafsu benar-benar terkendali, maka penggunaan sumber daya alam pun akan lebih terkendali. Sumber daya alam tidak dieksploitasi untuk memenuhi gejolak hawa nafsu atau mendapatkan hidup yang bersenang-senang. Sumber daya alam akan digunakan secara hemat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, bukan untuk memenuhi keinginan tanpa analisa.


Pun jika hawa nafsu terkendali, manusia akan hidup dengan dinamika terukur seimbang, tidak mudah terjebak perangkap gejolak zaman. Pada zaman Kali ini situasi politik, ekonomi, sosial dan budaya bahkan kehidupan beragama kadang-kadang berdinamika dengan fluktuasi tinggi. Apalagi sampai menimbulkan gejolak sosial, amat dibutuhkan keadaan diri yang penuh kendali agar jangan sampai terpancing untuk berbuat dengan kendali nafsu.


Kalau nafsu sampai menguasai diri kita, maka gejolak kehidupan bersamapun dapat terjadi. Hal itu dapat membawa hidup bersama ini menjadi sumber derita. Kebijaksanaanpun akan semakin jauh.


Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.


Via : pesonataksubali.blogspot.com/phdi.or.id

Foto By : @kakang_photoworks (ilustrasi)

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Inilah Sosok Penemu Tari Gopala Yang Merupakan Penggambaran Aktivitas Pengembala