Janganlah Sampai Spiritualitasmu Rapuh Tergerus Arus Modernisasi Dengan Lifestyle Yang Praktis Dan Ekonomis

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Motivasi" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali


Singgih yan tekaning yuganta kali, tan hana lwihe sangkeng mahadhana

Tan waktan guna sura pandita widagdha sami mengayap ing sang dhaneswara

Sakwehning rinasya sang wiku pada hilang, kula ratu hina kasyasih

Putradwe pitaninda ring bapa, si sudra banija wara wirya pandita


Sesungguhnya, bila jaman kali yuga datang hanya kekayaan atau materi yang dihargai

Tidak perlu dikatakan lagi, bahwa orang baik, orang-orang pandai, akan mengabdi pada orang yang kaya

Semua pelajaran yang rahasia, gaib di lupakan orang, keluarga-keluarga yang baik dan raja menjadi hina papa

Anak-anak sudah berani menipu dan mengumpat orang tua, orang hina dina akan menjadi saudagar mendapat kemuliaan dan kepandaian


Spiritualitas jangan sampai rapuh tergerus arus modernisasi dengan lifestyle yang praktis dan ekonomis bahkan sampai terjadi pendewaan atas materi (hedonism), gegap gempita kecanggihan teknologi telah membuat on time menikmati indahnya menu handphone, televisi, yang jauh jadi mendekat dan yang dekat terlihat jauh. Kini seolah dunia tiada batas lahi tinggak klik semua bisa di akses dengan cepat. Apakah kita harus menolaknya? Alangkah indahnya berenang di lautan tradisi dan modernisasi.


Modernisasi upakara Hindu yang cepat saji telah menjadi transaksional dengan uang sekarang menjadikan kita mudah, kalau sudah punya uang apapaun bisa di beli. Bahkan upakara harus memutar cakra yadnya untuk mensejahterahkan para petani, peternak dan yang lainnya, namun disisi lain ada yang hilang bahwa apa yang kita persembahkan idealnya apa yang kita miliki dengan fondasi ketulusikhlasan (lascarya) dan cinta kasih (prema) mulai terkikis oleh pola konsumenarisme. Untuk bisa bersenang di bara lautan modernitas tentunya dengan mempersiapkan perahu kemerdekaan beryadnya dengan dayung dharma.


Masihkah ada benih egoism jor-joran, pamer dalam beryadnya sedangkan nyanyian agung Tuhan Bhagavadgita telah menyebutkan Aphalakanksibhir yajno, vidhirdrste ta ijyate, yastavyam ece ti manah, samadhaya sa sattvikah “yadnya yang dihaturkan sesuai dengan sastranya, oleh mereka yang tidak mengaharap buahnya dan tegus kepercayaannya, bahwa memang sudah kewajibannya untuk beryadnya adalah satwika”. Proses penyadaran kembali kemerdekaan beryadnya mulai dari dalam diri pundi-pundi ketulusikhlasan taman hati harus mampu mencukur rumput keangkuhan dan kesombongan dalam beryadnya. Bening lagu Ebiet “kita mesti berbenah dan benar-benar bersih suci lahir dan bathin, singkan debu yang masih melekat” ini artinya bahwa refleksi ke dalam diri menjadi penentu kualitas beryadnya.


Ruang kemerdekaan beryadnya dalam forma kanista, madya, dan utama telah memberikan gerak harmoni bagi umat Hindu untuk beryadnya sesuai dengan kemampuannya, namun disisi lain orkestra briuk sapanggul dalam setiap upacara keagamaan telah menjadi catatan serius Badan Pusat Statistik bahwa beban ritual yang dilakukan oleh umat Hindu khsusunya Bali sangat banyak. Trend Import buah dari negeri asing menjadi status sosial bahkan kebanggaaan telah mampu membeli miliki negara maju memberikan merk bahwa kita umat Hindu yang maju. Tentunya kita tidak ingin menjadi umat Hindu yang lupa apalagi terjebak oleh dunia yang sifatnya maya ini menggoda, kita asyik dalam gelombang material yang memberi nikamat sesaat kemudian menghilang, muncul lagi yang lain.


Dunia materi inilah yang menyebabkan jiwa lupa pada jati dirinya yang sejati. Jiwa menyamankan dirinya dengan material tidak akan pernah merdeka. Dalam Wrhaspatitattwa 34 dengan jelas menguraikan bahwa manusia dibelenggu oleh raga atu indrianya dinyatakan sebagai orang yang aturu (tidur) dan menusia yang senantiasa aturu itulah disebut papa. “Atyanta kalasyasih ning atma, sajna Bhatara, ndya teka luputa ring papa, matangnyan lepase sangkeng papa neraka”: betapa menderitanya atma, ya Tuhanku, kapankah mereka lepas dari penderitaan, bagaimanakah caranya agar mereka dapat lepas dari penderitaan? Lalu bagaimana cara mengatasi papa tersebut: yan matutur ikang atma rijatinya, irika yan alilang (kesadaran akan Sang Diri) itulah kata kunci ajaran untuk memahami Siwa.


Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.

Via : pesonataksubali.blogspot.com/phdi.or.id

Foto By : @kakang_photoworks (ilustrasi)

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?