Inilah Yang Menyebabkan Terhambatnya Perjalanan Atman Menuju Alamnya

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Perjalanan Atman" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.

Bahasan ini adalah tentang kelanjutan perjalanan dari atma yang gagal dalam dua kesempatan untuk mencapai moksha dan empat kesempatan untuk memasuki alam-alam suci melewati lorong cahaya alam antarabahava. Dimana kemudian sang atma akan memasuki kondisi sushupti [tidur lelap tanpa mimpi] untuk jangka waktu tertentu dan ketika terbangun dia akan mendapati dirinya kembali berada di alam Marcapada, menggunakan lapisan badan linga sarira [badan halus] menjadi atma [hantu] gentayangan.

Perlu dijelaskan kembali bahwa dua kesempatan untuk mencapai moksha dan empat kesempatan untuk memasuki alam-alam suci melewati lorong cahaya alam antarabahava tersebut durasinya berbeda-beda untuk setiap orang dan bisa berlangsung sangat cepat. Kebanyakan orang yang semasa hidupnya yang tidak melaksanakan dharma dan tidak melaksanakan sadhana, cenderung akan melewatkannya begitu saja. Dia akan merasa mengalami semua pengalaman tersebut bagaikan sebentar atau sekilasan saja. Dan bahkan ada orang-orang yang sama sekali tidak sadar dengan adanya pengalaman ini. Dia akan mendapati dirinya sudah menggunakan lapisan badan linga sarira [badan halus] menjadi hantu gentayangan, tanpa menyadari adanya perjalanan berharga tersebut.

Badan linga sarira ini bagi atma yang meninggal wujudnya sangat nyata, bahkan terlihat padat, karena unsur pembentuknya adalah sama dengan badan fisik, yaitu sari-sari makanan. Wujudnya akan sama dengan wujud fisik di detikdetik terakhir ketika orang tersebut meninggal. Misalnya kalau dia sudah tua, maka linga sarira ini juga sama demikian. Kalau dia meninggal dengan cara kecelakaan yang merusak badan dan berdarah-darah, maka linga sarira inipun juga sama demikian. Tapi orang yang masih hidup tidak akan dapat melihatnya [kecuali orang yang mata ketiga-nya sudah terbuka], karena dimensinya di lapisan yang halus dari alam marcapada.

Pengalaman menjadi hantu gentayangan sangat mirip dengan sebuah mimpi, karena kita tidak dapat sepenuhnya melakukan kontrol akan bagaimana perjalanan kita sendiri. Bisa dikatakan ini adalah bagaikan sebuah pengalaman mimpi, tapi sebuah mimpi yang sangat nyata. Saat kita mati, kita sepenuhnya meninggalkan badan fisik. Tidak adanya lagi badan fisik sebagai penghalang berarti kekuatan pikiran kitalah yang sepenuhnya bekerja. Sehingga alam kematian terasa sangat identik dengan alam mimpi, yaitu kita tidak dapat sepenuhnya melakukan kontrol akan jalannya mimpi tersebut. Ini adalah laksana sebuah pengalaman mimpi yang nyata.

Tidak seperti dalam masa kehidupan manusia, dalam alam mrtya loka ini ada kesulitan yang amat sangat di dalam menyatukan pikiran [fokus atau konsentrasi]. Tanpa tubuh fisik yang menjadi penghalang, maka pikiran akan demikian bebasnya. Pikiran sangat rentan akan perubahan dan atma akan terombang-ambing kesana kemari oleh arus karma dan samskara seperti layangan putus dihembus angin. Terutama jika kita tidak bersadhana, melaksanakan dharma dan berlatih sebelumnya dalam masa kehidupan. Coba ingat ketika anda mengalami mimpi buruk, betapa sulitnya menyatukan pikiran. Betapa tidak berdaya dan lemahnya kita di dalam mimpi tersebut. Dan di alam mrtya loka ini lebih sulit lagi untuk menyatukan pikiran.



Samskara [kekuatan kecenderungan pikiran] dan karma merupakan faktor kunci yang sangat menentukan dari apa yang akan kita alami di dalam kematian. Atma pasti akan terpapar dengan apapun kebiasaan dan kecenderungan yang telah dia biarkan tumbuh, berkembang dan mendominasi di dalam masa kehidupannya. Sedikit saja gangguan emosi dan perasaan bisa memberi dampak besar
pada diri kita dan dengan konsekuensi yang berbahaya. Ini disebabkan karena tidak adanya lagi badan fisik sebagai penghalang, maka apapun perasaan dan gejolak emosi yang kita rasakan di moment ini akan menjadi berkali-kali lipat.

Misalnya sebuah contoh bila semasa kehidupan kita orangnya pemarah [mudah marah] maka itu akan menjadi potensi yang sangat berbahaya disini. Pengalaman ini bisa menjadi pengalaman yang sangat menyiksa, kalau perasaan dan gejolak emosi kita tidak stabil. Kalau kita merasa marah, maka rasa marah ini akan berkali-kali lipat menyiksa pikiran kita. Kalau kita merasa sedih, maka rasa sedih ini akan berkali-kali lipat menyiksa pikiran kita. Kalau kita merasa takut, maka rasa takut ini akan berkali-kali lipat menyiksa pikiran kita. Kalau kita merasa malu, maka rasa malu ini akan berkali-kali lipat menyiksa pikiran kita.

Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.

Via : Pesonataksubali.blogspot.com/hindualukta.blogspot.com
Foto By : Hindu Alukta (ilustrasi)

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?