Cerita Dibalik Kemegahan Pura Sakenan Dan Hal Penting Yang Wajib Diketahui Pemedek Sebelum Tangkil
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Pura Dalem Sakenan" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
Pura Sakenan merupakan bagian dari ribuan pura yang ada di Bali. Letaknya di desa Serangan, kecamatan Denpasar Selatan, dulunya Serangan merupakan sebuah pulau terpisah yang hanya bisa diakses melalui jalur laut, namun setelah mengalami reklamasi, kawasan ini begitu mudah untuk dikunjungi melalu jalur darat. Serangan sendiri menjadi tempat menarik bagi sejumlah kalangan wisatawan, ada penangkaran penyu, rekreasi diving dan juga kegiatan watersport lainnya seperti di Tanjung Benoa, sehingga menjadi salah satu objek wisata di Bali yang sayang untuk dilewatkan.
Pulau Serangan terbilang sangat kecil dengan panjang 2,9km dan lebar 1 km, seperti namanya yang berasal dari kata sira dan angen, memang membuat ngangenin karena kindahannya, itu sebabnya pelaut-pelaut Bugis sengaja untuk berhenti dan beristarahat mencari minum disini, karena keindahan pulaunya mereka betah berlama-lama, itu sebabnya sampai sekarang ada perkampungan dinamakan Kampung Bugis pada kawasan ini. Jika anda wisatawan coba agendakan acara tour di Bali anda berkunjung ke sini, selain beberapa rekreasi seperti watersport dan penangkaran penyu anda bisa memancing dan diving.
Pura Sakenan sendiri merupakan pura kahyangan jagat, dan menurut lontar Usana Bali dibangun oleh Mpu Kuturan (Rajakretha), dalam sejarahnya pura dibangun karena perwujudan rasa syukur sekelompok orang yang merasa sira angen karena keindahan pulau Serangan, masyarakat Bali sekitarnya juga ikut melakukan persembahyangan walaupun sebelumnya hanya bisa diakses melalui jalur laut menggunakan perahu-perahu nelayan, lambat laun transportasi laut ini mulai ditinggalkan, karena sekarang kendaran seperti mobil bahkan bus besar bisa dengan mudah mengakses Serangan.
Sejak zaman dulu Hyang Maharesi Markandya membangun serta menata keberadaan desa-desa dan menciptakan kesejahteraan masyarakat. Dengan permohonan kesejahteraan hidup itu, menyebabkan segala jenis tumbuhan yang ditanam, baik yang ditanam di tegalan maupun sawah semuanya tumbuh dengan subur. Itulah yang menyebabkan para pengikut beliau sangat taat dan sama-sama menciptakan kesejahteraan, semuanya bersatu dan hormat kepada Sang Dwijaswara. Oleh karena demikian asal-usulnya Sakenan itu, maka disebut juga Sad Kahyangan. Dibolehkan menggunakan candi bentar dan candi kurung. Adapun pakelem/padagingan candi kurung di puncak dan di dasarnya. Sarananya emas mirah dan selaka. Sementara sesuaran/tulisan pada pripihan-nya.
Saat beliau mengawali membangun Pura Sakenan, berdasarkan ketentuan patut diaturkan saji hyasan, segehan agung selengkapnya. Patut miasa 21 kali. Itulah yang patut diketahui bila membangun bangunan untuk Batara Sakenan. Bila dilanggar menyebabkan kacau seluruh negara (jagat). Oleh karena itu, tak boleh sembarangan membangun pelinggih. Sebab, orang-orang suci membangun tempat suci, bentuk bangunan, dan perlengkapannya berdasarkan hasil meditasi.
Ada juga disebutkan, Pura Sakenan termasuk salah satu Sad Kretiloka. Disebut sebagai simbol dari Sad Darsana. Disebut Sad Kretih yaitu Atma Kretih, Samudra Kretih, Wana Kretih, Jagat Kretih dan Jana Kretih. Pura Sakenan sendiri disebut Samudra Kretih. Sakenan itu sebagai tempat pemujaan Ida Hyang Dewa Biswarna atau Baruna. Beliau benar-benar sebagai penjaga Segara Pakretih (ketenangan lautan/samudera) untuk keselamatan dunia, menghilangkan segala jenis rintangan di dunia, dan segala jenis penyakit dan menyucikan segala jenis kala, bhuta dan manusia, dan berbagai jenis penyakit. Demikianlah yang disebutkan di dalam sastra. Oleh karena itu, bagi umat Hindu janganlah melanggarnya.
Ada hal penting yang setidaknya harus diperhatikan oleh para umat atau pemedek yang hendak tangkil ngaturang bakti atau bersembayang ke Pura Sakenan. Konon, hal ini masih rancu terjadi. Yang sering terjadi, umat melakukan persembahyangan di Pura Dalem Sakenan (pura yang di pinggir paling barat) dan di Pura Susunan Agung (di sebelah timur Dalem Sakenan), setelah itu langsung pulang.
Dalam pasamuan atau rapat nyanggra piodalan di Pura Sakenan yang sudah digelar, dijelaskan bahwa persembahyangan itu merupakan satu paket. Artinya, pemedek harus bersembahyang (1) ke Pura Susunan Wadon -- sekitar 0,5 km ke timur Pura Sakenan), (2) ke Pura Susunan Agung, dan (3) ke Pura Dalem Sakenan -- pada pelingih paling barat di pinggir pantai yang berbentuk Padmasana.
Dalam kajian sastranya, rangkaian ini bisa di telusuri dari kata Pura Susunan Wadon, Susunan Agung, dan Pura Dalem Sakenan. Terdapat suatu pengertian Purusa, Pradhana dan Susunan Agung adalah Lingga, Yoni dan Susunan Agung adalah tempat penyatuan antara Purusa dan Pradana -- penyatuan sang diri dengan maharoh sebagai asal mula setiap mahluk hidup. Pemahaman inilah yang ditemukan Mpu Kuturan sehingga melahirkan Pura Sununan Lanang dan Susunan Wadon.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : Pesonataksubali.blogspot.com/Denpasar.go.id/babadbali.com
Foto By : Rangkuman Google (ilustrasi)


Comments
Post a Comment