Cerita Dan Karya Yang Mendunia Dibalik Sosok Maestro Terkenal I Wayan Beratha
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "I Wayan Beratha" sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali
I Wayan Beratha merupakan komposer kelahiran tahun 1926, berasal dari Banjar Belaluan Denpasar. Sang kakek, I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seorang seniman karawitan dan pagambuhan yang sohor pada zamannya. Sejak kecil Beratha bersentuhan dengan gamelan Bali, bakatnya terasah melalui binaan sang ayah, I Made Regong. Selain berguru pada ayahnya, Beratha juga menimba ilmu dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu tentang karawitan dan tari palegongan, mendalami tari klasik dan Gong Kebyar dari I Nyoman Kaler, serta mempelajari tari jauk dari I Made Grebeg.
Di tahun 1957 di Banjar Belaluan, Beratha mendirikan Sekaa Gong Sad Merta. Ia juga mengajar tari dan tabuh di sejumlah sekaa gong di Bali, di antaranya; di Kerambitan Tabanan, Banjar Delodpeken, Singaraja, Banjar Pikat Klungkung, dan lain-lain. Beratha melahirkan sejumlah karya monumental, antara lain koreografi tari Yudha Pati, Tari Kupu-Kupu, dan Tari Tani. Beratha jugadikenal sebagai kreator gending Semar Pegulingan di Abiankapas Kaja Denpasar, dan juga pencipta gamelan Semara Dana, yang menggabungkan Gamelan Semarpegulingan dengan Gamelan Gong Kebyar. Ia sudah menciptakan sekitar 20 karya tari, gending, dan sendratari, antara lain Sendratari “ Jayaprana“ , Tabuh “Gesuri“ , Sendratari “ Ramayana“, Sendratari “ Maya Denawa“ , Instrumentalia “Palgunawarsa“, yang mendapat penghargaan tertinggi dalam festival gong kebyar seluruh Bali, Tari “Panyembrana“ dan lainnya.
Sepanjang tahun 1956 hingga 1999, Beratha dan tim keseniannya berulang ke luar negeri, mungkin 100 kali, mengunjungi lebih dari 35 negara, antara lain Paris, Perancis, di Istana Ratu Yuliana, Iran, India, Australia, Jerman Barat, Italia, dan Jepang, dll. Selain ke Tiongkok selama tiga bulan, kunjungan pentas ke Amerika berlangsung enam bulan yakni ketika mengisi acara di New York World's Fairs. Murid-murid karawitan binaan Beratha banyak yang menjadi pengajar gamelan sohor di luar negeri, salah satunya Ketut Gede Asnawa di Amerika.
Beratha juga turut berperan atas lahirnya sekolah seni tradisi modern seperti Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) yang dulunya disebut KOKAR (konservatori karawitan), ASTI, hingga ISI. Atas pengabdiannya dalam bidang kesenian, khususnya gamelan Bali, Beratha mendapatkan gelar kehormatan Empu Seni Karawitan pertama dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar(2012), serta sejumlah penghargaan lain: Anugerah Seni Nasional dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1972), Piagam Kerti Budaya (1979), Dharma Kusuma dari Gubernur Bali (1981), dan Penghargaan Ciwa Nataraja dari ISI Denpasar (1992).
Keluarga Beratha kini sedang menyusun biografi perajalanan hidupnya. Sudah ada beberapa halaman yang merangkum salah satu generasi seniman tradisi yang dihormati ini. Dituliskan, cara I Wayan Beratha menyelesaikan sebuah garapan sendratari.. Pada tahap pertama ia menggarap bentuk – bentuk adegan sesuai dengan isi pokok cerita. Tiap adegan diberinya iringan gending sesuai dengan suasana seperti yang dimaksudkan oleh adegan. Setelah adegan-adegan tersusun menjadi babakan, setiap babakan berisi beberapa adegan, Beratha memilih orang- orang yang diberi tugas sebagai artis utama dan figuran. Pada tahap berikutnya Ia Beratha memikirkan bentuk tari yang akan memegang kunci utama bagi terwujudnya sendratari.
Sebagian besar garapannya memang sendratari. Di antaranya Sendratari “ Jayaprana” ( 1961), Tabuh “Gesuri” (1964), tabuh ini diciptakan pada waktu ia berada di New York, Sendratari “ Ramayana” (1965). Sendratari “ Maya Denawa” (1966), Instrumentalia “Palgunawarsa” (1968), yang mendapat penghargaan tertinggi dalam festival gong kebyar seluruh Bali, Tari “Panyembrana” (1971) dan lainnya. Keluarga seniman tradisi ini keahlian utamanya adalah pelatih karawitan khususnya pegongan dan pelegongan atau karawitan yang menggunakan alat- alat gambelan. Selain menciptakan alat dan nada, kakek, ayah, dan anak (Keneng-Regog-Beratha) ini juga adalah tukang memperbaiki nada gambelan, di Bali disebut tukang panggur.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : Pesonataksubali.blogspot.com/bentarbudaya.com/Balebengong-id.ampproject.org
Foto By : Rangkuman Google (ilustrasi)


Comments
Post a Comment