Yadnya Tidak Harus Berupa Banten Upakara Tetapi Bisa Juga Dengan Cara Kemanusiaan

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Praktik Yajna" sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali


Pelaksanaan Yadnya bukan hanya dalam bentuk upacara yadnya dengan menggunakan persembahan berupa banten / upakara saja, melainkan Yadnya dapat dilaksanakan dalam bentuk yang beragam karena yadnya itu merupakan segala bentuk kegiatan atau pengorbanan yang dilakukan dengan tulus ikhlas tanpa mengharapkan pamrih.


Sehingga dengan demikian, Yadnya dapat dilakukan dalam bentuk yang bermacam-macam. Ada yadnya yang dilaksanakan dalam bentuk persembahan dengan menggunakan sarana berupa banten / sesajen, dalam bentuk pengorbanan diri yaitu pengendalian diri, mengorbankan segala aktivitas, mengorbankan harta benda dan pengorbanan dalam bentuk ilmu pengetahuan. 


Bentuk yadnya ini diuraikan / dijelaskan secara tegas dalam kitab Bhagavadgita IV.28 yang isinya adalah sebagai berikut:

 

“Dravya-yajnana tapo-yajna yoga-yajnas tathapare,

 Svadhyaya-jnana-yajnas ca yatayah samsita-vratah.”

 


Terjemahannya:

 “Setelah bersumpah dengan tegas, beberapa diantara mereka dibebaskan dari kebodohan dengan cara mengorbankan harta bendanya. Sedangkan orang lain dengan melakukan pertapaan yang keras, dengan berlatih yoga kebathinan terdiri atas delapan bagian, atau dengan mempelajari Veda untuk maju dalam pengetahuan suci” 


Beryajña bagi umat Hindu hukumnya wajib walau bagaimana dan di mana pun mereka berada. Sesuatu yang di-laksanakan dengan dilandasi oleh yajña adalah utama. Bagaimana agar semua yang kita laksanakan ini dapat berman-faat dan bekualitas-utama, mendekatlah kepada-Nya dengan tali kasih karena sesungguhnya Tuhan Maha pengasih. Kitab Bhagavad Gita menjelaskan sebagaimana berikut ini.


Ye tu dharmyāmṛtam idaṁ yathoktaṁ paryupāsate, sraddadhānā mat-paramā bhaktās te ’tiva me priyāá.”


Terjemahan:

"Sesungguhnya ia yang melaksanakan ajaran dharma yang telah diturunkan dengan penuh keyakinan, dan menjadikan Aku sebagai tujuan, penganut inilah yang paling Ku-kasihi, karena mereka sangat kasih pada-Ku.” (Bhagavad Gita XII. 20), (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:39).


Kasih sayang adalah sikap yang utama bagi pelakunya. Maksudnya, membiasakan diri hidup selalu bersahabat sesama makhluk, jauh dari keakuan dan keangkuhan, serta selalu besama dalam suka dan duka serta pemberi maaf. Orang-orang terkasih selalu dapat mengendalikan diri, berkeyakinan teguh, terbebas dari kesenangan, kemarahan, dan kebingungan. Dia tidak mengharapkan apa pun, tidak terusik dan tidak memiliki pamrih apa pun. Orang-orang terkasih adalah mereka yang terbebas dari pujian dan makian, pendiam dan puas dengan apa pun yang dialaminya. Persembahan apa pun yang dilaksanakan oleh seseorang kepada-Nya dapat diterima, karena Beliau bersifat Mahakasih.


Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.

Via : Pesonataksubali.blogspot.com/mutiarahindu.com/rah-toem.blogspot.com

Foto By : @yh_pg (ilustrasi)

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?