Sekarang Doa Kita Memang Belum Dikabulkan Tapi Pasti Ada Rencana Besar Dibalik Itu Semua
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Motivasi" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali
Masih ingatkah kita kapan terakhir kali kita bersyukur kepada Dewata (Hyang Widhi) atau Tuhan? Mungkin kita tidak menyadari bahwa ternyata sudah cukup lama kita tidak mengucapkan syukur lagi kepada Hyang Widhi/Tuhan. Atau mungkin kita pernah merasa bahwa segala apa yang kita perbuat adalah hasil dari usaha dan kerja keras kita, jadi untuk apa kita bersyukur kepada Hyang Widhi/Tuhan? Mungkin sebagian dari kita berkata bahwa sudah sekian lama juga berdoa dan berharap kepada Hyang Widhi/Tuhan, tetapi tidak juga menerima jawaban atas segala masalah, jadi untuk apalagi kita berharap dan bersyukur kepada-Nya.
Banyak hal yang bisa membuat kita tidak lagi bersyukur kepada Dewata/Tuhan. Melalui keadaan, masalah, pekerjaan, keluarga dan banyak lagi yang bisa membuat kita justru malah bersungut-sungut dihadapan Dewata/Tuhan. Bahkan sebagian orang menyalahkan Dewata/Tuhan atas apa yang mereka alami dalam kehidupannya. Mereka merasa bahwa Dewata/Tuhan tidak adil bagi mereka. Kalau kita mau merenung sejenak, kita akan menyadari bahwa masih banyak yang bisa kita syukuri dalam kehidupan kita.
Mungkin saat ini kita belum mendapatkan apapun yang menjadi keinginan kita. Tetapi ketika kita mencoba melihat ke “bawah”, masih banyak orang lain yang lebih menderita dari apa yang kita alami saat ini. Kalau kita masih mempunyai keluarga, kita masih beruntung dibanding sebagian orang yang sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Atau bagi yang masih memiliki pekerjaan yg biasa-biasa saja, masih jauh lebih beruntung dibanding dengan mereka yang belum mendapat pekerjaan. Kalau kita masih memiliki anggota tubuh yang lengkap dan sehat, kita seharusnya merasa lebih beruntung dibanding dengan yang mengalami cacat tubuh atau sedang menderita suatu penyakit.
Manusia hendaknya selalu bersyukur kepada Dewata/Tuhan Yang Maha Esa Apapun kondisi dan masalah yang kita hadapi, entah itu baik ataupun buruk, Dewata/Tuhan menginginkan agar kita senantiasa mengucap syukur. Bersyukur dengan apa yang masih kita miliki saat ini. Bersyukur kalau kita masih bisa menikmati hidangan walaupun sangat sederhana. Kalaupun kita diberkati dengan harta kekayaan, tetaplah ucapkan syukur kepada Dewata/Tuhan oleh karena-Nya semua itu ada. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral.
Dasar etika dan moral yang bersumber dari ajaran agama Hindu, antara lain adalah :
1. Tat Twam Asi, yang merupakan dasar daripada etika Hindu yang mengajarkan bahwa semua makhluk adalah sama, sehingga menolong orang lain berarti menolong diri sendiri dan menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Konsep ini merupakan upaya untuk mengembangkan sikap dan sifat toleransi dan tenggang rasa kita terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan;
2. Tri Kaya Parisudha, yang mengajarkan bahwa manusia diwajibkan untuk berbuat, berkata dan berpikir yang baik dan benar, yang didasarkan atas dharma yaitu kebenaran yang merupakan kewajiban suci untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini adalah sikap mengendalikan diri secara lahiriah dan bathiniah yang harus dilakukan oleh setiap umat Hindu dalam usaha untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik,
3. Mempertebal keyakinan terhadap adanya Hukum Karma Phala, yang merupakan dasar filosofi dan etika Hindu yang mengajarkan tentang hubungan antara perbuatan dengan akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut. Bahwa suatu perbuatan yang baik dilakukan seseorang dalam hidupnya akan berpengaruh terhadap kehidupannya, baik sekarang ini, maupun kelak setelah meninggal (hala ulah hala tinemu, hayu kinardi hayu pinanggih).
4. Daiivi Sampat, yaitu sifat-sifat manusia yang dinyatakan memiliki sifat-sifat kedewataan, yaitu keseluruhan sifat dan pelaksanaannya selalu berpegang kepada kesucian, keselarasan hubungan dengan lingkungan, cinta kasih yang mendalam tidak hanya kepada manusia tetapi juga kepada semua makhluk hidup ciptaan Tuhan; dan
5. Tri Hita Karana, yang mengajarkan kepada setiap umat manusia, agar di dalam hidupnya selalu menciptakan dan menjalin hubungan yang harmonis, baik antara manusia dengan Sang Pencipta, antara manusia dengan sesama manusia maupun hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungannya. Dengan demikian, kita akan hidup harmonis dan keharmonisan tersebut akan membawa pada ketentraman dan kenikmatan hidup.
Karena demikianlah, maka segala apa yang kita rasakan, segala apa yang kita lihat, dengar dan sebagainya dari lingkungan kita, kita tanggapi sebagai sesuatu yang indah, yang manis dan membahagiakan. Adalah dharma kita melestarikan keharmonisan hidup dengan penuh kearifan, menolong orang dengan berdana punia, hidup damai, bekerja dengan tekun dan melaksanakan pengabdian yang tulus. Dasar-dasar filosofi dan etika Hindu seperti yang disebutkan tadi, apabila dapat kata amalkan dengan baik, maka alangkah indahnya hidup kita ini. Kita akan merasa sangat bahagia, hidup kita terasa lebih berarti dan lebih sempurna.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : pesonataksubali.blogspot.com/Hindualukta.blogspot.com/phdi.or.id
Foto By : @kakang_photoworks (ilustrasi)


Comments
Post a Comment