Perhatikan Inti Makna Upacara Dan Upakara Menurut Ajaran Hindu Di Bali
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Upacara Dan Upakara" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
Setiap Upacāra (proses untuk mendekatkan diri dengan Brahman) agama selalu disertai dengan Upakāra (sarana yang dipakai sebagai media pemujaan Brahman), baik dalam wujud kecil (sederhana/kanistama), menengah (madhyama) maupun besar (mewah/uttama), hendaknya dibarengi dengan memahami akan tujuan Upacāra tersebut dan memahami makna Upakāra nya. Oleh karena itu Upacāra dan Upakāra harus mengacu kepada sastra-sastra agama, bukan hanya dilandasi dengan ”Gugon Tuwon, Anak Mula Keto”
Banten dalam agama Hindu adalah bahasa agama. Ajaran suci Veda sabda suci Tuhan itu disampaikan kepada umat dalam berbagai bahasa. Ada yang meggunakan bahasa tulis seperti dalam kitab Veda Samhita disampaikan dengan bahasa Sanskerta, ada disampaikan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan ini sesuai dengan bahasa tulisnya. Setelah di Indonesia disampaikan dengan bahasa Jawa Kuno dan di Bali disampaikan dengan bahasa Bali. Disamping itu Veda juga disampaikan dengan bahasa Mona. Mona artinya diam namun banyak mengandung informasi tentang kebenaran Veda dan bahasa Mona itu adalah banten.
Dalam Lontar Yajña Prakrti disebutkan: “ sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka anda bhuana” artinya: semua jenis banten (upakāra) adalah merupakan simbol diri kita, lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung (alam semesta) Demikian pula dalam Lontar Tegesing Sarwa Banten, dinyatakan: “ Banten mapiteges pakahyunan, nga; pakahyunane sane jangkep galang” Artinya: Banten itu adalah buah pemikiran artinya pemikiran yang lengkap dan bersih.
Arti Upakara :
Upa = dekat = mendekatkan
Kara = tangan = perbuatan = karma ( aktifitas)
Sehingga Upakara diartikan sebagai Sarana bhakti yg mendekatkan diri kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sedangkan Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/ rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Weda.
Upakara artinya pelayanan dengan ramah diwujudkan dengan banten yang dalam ajaran Siddhanta disebutkan upakara termasuk Yajna atau persembahan suci dan sebagai perbuatan yang sangat mulia untuk dapat belajar membuat upakara hendaknya juga terlebih dahulu dapat menyucikan laksana agar tingkat kesucian upakara yang dibuat tersebut dapat dipertahankan.
Karena Upakara adalah sarana perantara untuk persembahan dan bhakti umat Hindu kepada Sang Hyang Widhi dan manifestasinya yang mana disebutkan kata "upakara" berasal dari kata upa+kara;
”upa”, yang artinya perantara (jalaran),
”kara”, artinya sembah. Sehingga untuk di Bali, ucapan upakara sebagai sarana perantara yang lebih mentradisi dengan sebutan ”yadnya (banten)” dengan tetandingan banten yang memiliki nilai religius tinggi.
Bila dihayati secara mendalam, banten merupakan wujud dari pemikiran yang lengkap yang didasari dengan hati yang tulus dan suci. Mewujudkan banten yang akan dapat disaksikan berwujud indah, rapi, meriah dan unik mengandung simbol, diawali dari pemikiran yang bersih, tulus dan suci. Bentuk banten itu mempunyai makna dan nilai yang tinggi mengandung simbolis filosofis yang mendalam. Banten itu kemudian dipakai untuk menyampaikan rasa cinta, bhakti dan kasih.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : Pesonataksubali.blogspot.com/sejarahharirayahindu.blogspot.com/yanartha.wordpress.com/gamabali.com
Foto By : Bali Express


Comments
Post a Comment