Mengenal Lebih Dekat Makna Tradisi Mekotek Yang Dilaksanakan Setiap Hari Raya Kuningan
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Tradisi Mekotek" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
Tradisi Mekotek digelar di Desa Munggu Kecamatan Mengwi Badung. Tradisi yang juga dikenal dengan Gerebek Mekotek ini dilakukan turun temurun oleh generasi penerus dari leluhur warga desa Munggu khususnya umat Hindu dan yang pasti Tradisi Mekotek hanya ada di Desa Munggu, Mengwi Badung. Tradisi Mekotek merupakan atraksi budaya yang telah menjadi ikon pariwisata yang ditunggu-tunggu tidak saja dari wisatawan lokal tapi juga mancanegara.
Bagi Warga desa munggu selain persiapan untuk perayaan hari raya kuningan mereka juga biasanya mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk Gerebek Mekotek. Peralatan yang dimaksud hanyalah tongkat kayu sepanjang 2 sampai dengan 2,5 meter yang telah dibersihkan(dikelupas) kulitnya.Tradisi Mekotek diikuti warga Desa Munggu, pria usia 12 sampai 60 tahun. Peserta tradisi mekotek dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompoknya terdiri sekitar 50 orang, tongkat kayu yang mereka bawa diadu/dibenturkan. Benturan puluhan tongkat kayu tersebut menimbulkan bunyi tek..tek..tek..tek saat tongkat kayu tersebut disatukan membentuk seperti sebuah piramid salah seorang peserta akan naik. Semarak pastinya. Inilah mengapa Tradisi unik ini disebut Tradisi Mekotek.
Sejarah Tradisi Mekotek
Konon Tradisi Mekotek ini awalnya digelar oleh warga desa untuk menyambut kedatangan para prajurit dari pasukan kerajaan Mengwi dimana saat ini memiliki peninggalan pura kerajaan Pura Taman Ayun, sambutan warga pada saat itu konon sebagai perayaan kemenangan pasukan kerajaan Mengwi atas pertempuran melawan kerajaan Blambangan yang ada di pulau Jawa.
Seperti yang sudah disinggung di atas, tradisi Mekotek semula dilakukan untuk menyambut prajurit Kerajaan Mengwi yang datang dengan membawa kemenangan atas Kerajaan Blambangan di Banyuwangi. Dikisahkan, Kerajaan Blambangan semula merupakan wilayah taklukkan Dinasti Mataram yang saat itu direpresentasikan oleh Kesultanan Kartasura (sebelum berganti menjadi Kasunanan Surakarta).
Pada 1743, Pakubuwana II selaku pemimpin Kesultanan Kartasura menyerahkan wilayah Blambangan kepada VOC atau Belanda. Lepasnya Blambangan dari Mataram membuat Kerajaan Mengwi bergerak untuk merebut wilayah di ujung timur Pulau Jawa itu.
Dikutip dari buku Pangeran Rempeg Jagapati: Pahlawan Perjuangan di Tanah Blambangan (2008) karya Hadi Moh. Sundoro, Mengwi menilai Blambangan sangat strategis dan menguntungkan jika berhasil dikuasai. Terlebih, antara Mengwi dengan Blambangan hanya dipisahkan oleh selat.
Selain dari sisi ekonomi dan perdagangan, Blambangan bagi Mengwi juga menjadi benteng terakhir untuk membendung masuknya pengaruh Islam ke Pulau Bali yang mayoritas beragama Hindu. Di sisi lain, tulis I Made Sudjana dalam buku Nagari Tawon Madu: Sejarah Politik Blambangan Abad XVIII (2001), VOC menganggap Blambangan tidak terlalu penting dan akan mengurusi wilayah ini saat dibutuhkan nanti. Invasi militer yang dilakukan Kerajaan Mengwi ke Blambangan ini tentunya memicu pertempuran. Mengwi pun meraih kemenangan yang kemudian diabadikan dalam tradisi Mekotek.
Dulu, perayaan Mekotek menggunakan besi atau tombak yang merupakan senjata para prajurit Mengwi saat menaklukkan Blambangan. Namun, demi keamanan, alat yang digunakan diganti dengan tongkat kayu sepanjang 3 sampai 5 meter. Para peserta Mekotek diwajibkan mengenakan pakaian adat madya, yaitu kancut dan udeng batik.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : Pesonataksubali.blogspot.com/paduarsana.com/tirto.id
Foto By : subbali.com (ilustrasi)


Comments
Post a Comment