Taukah Anda Apa Arti Slogan Pendidikan "Tut Wuri Handayani" ?

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Makna Kata" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali


Tut Wuri Handayani adalah penggalan dari kalimat panjang yang terkenal dari Ki Hajar Dewantoro, pendiri Taman Siswa, bapak pendidikan kita, yang baris terakhirnya juga menjadi bagian dari logo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia : Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Maknanya lebih kurang : di depan memberi teladan, ditengah membimbing (memotivasi, memberi semangat, menciptakan situasi kondusif) dan dibelakang mendorong (dukungan moral).


Ketiga prinsip dasar pendidikan ini, jika dikaji dari aspek ontologisme pendidikan, maka dapat dijabarkan sebagai berikut. Pendekatan ontologis menekankan pada hakikat atau keberadaan pendidikan itu sendiri. Artinya, keberadaan atau hakikat pendidikan adalah berkenaan dengan keberadaan atau hakikat manusia itu sendiri. Atau dengan bahasa lainya dapat dikatakan bahwa peserta didik dan pendidik tidak terlepas dari makna keberadaan manusia itu sendiri (Tilaar, 1999:18). Berkaitan dengan hal tersebut, maka pertanyaan-pertanyaan filsafat mengenai apakah manusia itu, dan apakah kebe-radaan manusia itu, juga merupakan pertanyaan esensial dalam proses pendidikan.


Terkait dengan hal itu, maka pendidikan sebagai ilmu pengetahuan mempunyai objek, metotologi, serta analisis mengenai proses pendidikan itu sendiri. Mengingat objek atau subjek ilmu pendidikan tersebut adalah anak manusia, maka pada hakikatnya proses pendidikan itu adalah bagaimana memanusiakan anak manusia, sehingga tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang utuh.


Dalam proses memanusiakan anak manusia, para pakar pendidikan ataupun para pendidik professional biasanya mendasarkan diri pada teori-teori pedagogisme apakah teori nativismenya Schopenhouer yang mengatakan bahwa anak sejak dari dalam kandungan sudah mempunyai kemampuan-kemampuan khusus, sehingga para pendidik tinggal mengembangkan saja apa yang telah dimiliki oleh anak-anak dari sejak kelahirannya. Ataukah teori empirismenya John Locke yang mengatakan bahwa anak-anak begitu dilahirkan bagaikan kertas putih bersih (tabularasa) yang akan diisi dengan berbagai bentuk pendidikan yang akan diberikan oleh para pendidik professional tersebut.


Apapun krangka teori yang dijadikan landasan oleh para pendidik professional dalam menjalankan proses pendidikan, mereka tidak dapat melepaskan diri dari strategi dan metode pembelajaran dalam hal memanusiakan anak-anak manusia. Salah satu strategi yang dapat dijadikan acuan oleh para pendidik professional dalam melaksanakan proses pembelajaran adalah selalu berpegang pada tiga prinsip dasar pendidikan sebagaimana dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni "Ing Arso Sung Tulodo" yang artinya kurang lebih di depan anak-anak, guru harus mampu tampil menjadi suri tauladan.


Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.

Via : Pesonataksubali.blogspot.com/phdi.or.id/dosenpendidikan.co.id

Foto By : dosenpendidikan.co.id

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?