Penjelasan Pembagian Karma Menurut Ajaran Hindu
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Pembagian Bentuk Karma" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali
Hukum karma adalah hukum yang mengatur dinamika kehidupan semua mahluk di alam semesta yang mana hukum inilah penyebab mengapa adanya yang terlahir miskin atau kaya, ada cantik, tampan atau jelek.
Apan pran eti svadhaya grbhito
Amartyo martyena sayonih
[Rig Veda I.164.38]
-Jiwa yang memiliki tubuh yang sementara, mengambil bentuk eksistensi lain mahluk seperti ini atau seperti itu [terlahir kembali] menurut perbuatannya [sesuai dengan karmanya] sendiri.
Milyaran tahun di dalam mengarungi roda samsara [siklus kelahiran-kematian-kelahiran] ini, ada empat hal yang harus kita ketahui :
Agar kita bisa lahir sebagai manusia, kita membutuhkan tabungan karma baik yang sangat banyak.
Agar kita bisa lahir sebagai manusia dan berjodoh dengan ajaran pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.
Agar kita bisa lahir sebagai manusia, berjodoh dan mampu memahami ajaran pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.
Agar kita bisa lahir sebagai manusia, berjodoh dan mampu memahami ajaran pembebasan, lalu mengalami pembebasan, kita membutuhkan lagi tabungan karma baik yang sangat banyak.
Kita harus menyadari bahwa kelahiran kita sebagai manusia adalah sebuah berkah, yang kita ciptakan sendiri sebabnya dengan hidup secara baik dengan timbunan tabungan karma baik yang banyak pada kehidupan-kehidupan kita sebelumnya. Sebaliknya, kelahiran kita yang akan datang juga akan ditentukan oleh segala apa yang kita lakukan saat ini juga.
Seseorang yang dalam kehidupannya penuh dengan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam luhur [Svah Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya menyenangkan dan didominasi oleh kebahagiaan dan kemudahan hidup. Sebaliknya seseorang yang dalam kehidupanya penuh dengan karma buruk, suka mementingkan diri sendiri, suka merugikan orang lain, suka menyakiti, suka mengganggu, dll, ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam gelap [Bhur Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya banyak merasakan kesengsaraan dan ketidakberuntungan. Sederhananya, kita bisa membayangkan sendiri seperti apa kehidupan kita yang akan datang hanya dengan melihat sikap dan tindakan kita pada saat ini.
Adhursata svayam ete vacobhir
Rjuyate vrjinani bruvantah
[Rig Veda V.12.5]
-Orang-orang yang tidak berjalan lurus [melaksanakan dharma], akan mengalami kehancuran semata karena perbuatan-perbuatan [karma buruk] mereka sendiri.
Di alam semesta ini berlaku hukum karma, ada akibat karena ada sebab. Tapi sebagian orang, walaupun sudah tahu akan adanya hukum karma, tapi dia tetap merasa heran, marah dan protes ketika berbagai masalah, kesulitan dan kesengsaraan datang dalam hidupnya. Hanya orang yang sadar dan memahami dalam-dalam tentang hukum semesta ini [hukum karma] akan menerima setiap kejadian buruk dengan bathin damai [karena dia sadar sedang membayar hutang karma], serta secara bersamaan berupaya “memotong” sebab yang akan menghasilkan akibat buruk.
Disinilah pentingnya terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, karena karma baik akan membantu meringankan karma buruk kita.
Disinilah pentingnya terus-menerus berupaya melenyapkan kebiasaan-kebiasaan yang menghasilkan karma buruk dan terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan [yang akan menghasilkan karma baik].
Sesungguhnya kebiasaan-kebiasaan ini akan berlanjut antar kehidupan. Bila pada kehidupan sebelumnya kita adalah orang yang bersifat penuh kebaikan, sabar dan penyayang, maka kecenderungan tersebut akan muncul dan berlanjut kembali pada kehidupan kita yang sekarang. Bila sifat-sifat dharma tersebut terus-menerus diperkuat dan dikembangkan pada kehidupan saat ini, hal itu akan semakin kuat dan menonjol pada kehidupan kita selanjutnya.
Sebaliknya bila dalam kehidupan sekarang kita lalai untuk mengembangkan sifat-sifat dharma tersebut, sifat mulia tersebut akan berangsur melemah dan salah-salah akan pudar dalam kehidupan mendatang. Hal ini akan membuka kemungkinan bangkitnya kegelapan bathin dalam diri kita, menghasilkan karma-karma buruk, yang sekaligus akan mengakibatkan pengalaman-pengalaman hidup yang menyengsarakan dan jauh dari jalan kesadaran.
Berdasarkan hal inilah kemudian para Maharsi mengintisarikan bahwa ada dua hal PALING PENTING yang harus terus-menerus kita laksanakan dalam kelahiran sebagai manusia, yaitu :
TUGAS PERTAMA KITA : SETIAP ADA KESEMPATAN TERUS BERUPAYA MELAKUKAN KEBAIKAN, KEBAIKAN DAN KEBAIKAN.
Di dalam berbagai teks-teks Hindu, dijelaskan secara eksplisit tentang pentingnya banyak-banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Di bawah ini adalah beberapa contoh kutipan-kutipan tersebut dalam bentuk ringkasan :
-Atharva Veda-
-Tapas caiva-astam karma ca
-Antar mahati-arna ve
-[Atharva Veda XI.8.2]
-Tapa [pengendalian pikiran dan indryia-indriya] dan keteguhan melaksanakan karma baik [terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan] adalah satu-satunya sumber keselamatan di dunia yang mengerikan ini.
Atharva Veda menjelaskan bahwa dalam eksistensi kita sebagai mahluk, sumber keselamatan kita sangat terbatas dan itupun sepenuhnya tergantung kepada diri kita sendiri. Sangat penting dalam hidup ini untuk terus-menerus banyak-banyak melakukan kebaikan. Dijelaskan sebagai berikut :
Dengan banyak-banyak melakukan kebaikan, kita belum tentu tahu bagaimana perasaan orang tersebut, tapi satu hal yang pasti adalah bathin kita akan banyak mengalami pembersihan-pembersihan. Bathin kita dibimbing rapi menuju ketenangan, bebas dari rasa iri hati, tidak mudah marah, tidak mudah terganggu oleh orang lain, tidak mendendam, dll. Dan yang pertama kali mengalami kedamaian bathin itu adalah diri kita sendiri. Lalu kita juga menjadi sumber kedamaian dan harmoni bagi lingkungan kita.
Kita bisa mengamati sendiri melalui fakta sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dalam kehidupan keseharian kita selalu baik hati, penyayang, suka menolong, suka menyenangkan hati orang, dll, orang-orang akan cenderung menyukai kita, musuh kita sedikit dan kita terhindar dari konflik-konflik berbahaya. Tentu saja kemudian akibatnya adalah pengalaman-pengalaman hidup kita akan lebih membahagiakan.
Karma baik akan membantu meringankan beban karma buruk kita.
Dengan banyak karma baik, dewa penolong kita akan “turun”. Tanpa kita ketahui, kita akan dijaga dan dibantu oleh kekuatan-kekuatan suci dari alam-alam luhur yang tidak terlihat tersebut.
Dalam roda samsara, seseorang yang dalam kehidupannya banyak karma baik [banyak melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan], ketika meninggal dia akan pergi ke alam-alam luhur [Svah Loka] atau kemudian terlahir kembali sebagai manusia yang hidupnya menyenangkan dan didominasi oleh kebahagiaan dan kemudahan hidup.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : pesonataksubali.blogspot.com/paduarsana.com
Foto By : kajianteknologi.com (ilustrasi)


Comments
Post a Comment