Mengapa aling-aling banyak kita jumpai pada rumah di bali ?

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Aling Aling Bali" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali


Aling - Aling adalah pembatas antara angkul - angkul dengan pekarangan rumah maupun tempat suci yang berfungsi sebagai penetralisir dari gangguan negatif baik secara sekala maupun niskala.


Dahulu di Bali, sebuah aling - aling oleh masyarakat umum, masyarakat biasanya menggunakan kelangsah (daun kelapa kering) atau kelabang mantri sebagai sarana proteksi dari kekuatan negatif dimana sulaman atau ulat-ulatan dari daun kelapa tersebut diletakkan pada aling-aling, namun ada yang menempatkan sebagai penghias aling-aling digunakan sebuah patung yang sebagaimana disebutkan dari kutipan Bale Bengong, patung untuk mempercantik arsitektur Bali,

Sebagai pembatas antara angkul - angkul dan pekarangan rumah, biasanya ada yang menggunakan patung Ganesha sebagai simbul kebijaksanaan.

Sedangkan pembatas antara angkul - angkul dan tempat suci dalam pekarangan rumah, biasanya digunakan patung Nawa Sura & Nawa Sari yang diletakkan pada pintu masuk merajan atau sanggah, tempat sembahyang di rumah. 


Sama halnya pada angkul-angkul (pintu gerbang di rumah). Kedua patung ini mengapit pintu masuk sebelum menuju area merajan atau sanggah.


-Sebuah aling-aling digunakan misalnya jika pintu masuk pekarangan sejajar dengan pintu kamar rumah, atau pintu pekarangan rumah yang sejajar / tumbak jalan maka diperlukan sebuah penghalang. 

--Jika kondisi pekarangan tidak seperti tersebut diatas, maka tidak perlu dibuatkan aling-aling. 

-Andaikata pekarangan memerlukan aling-aling namun tempat yang tidak memungkinkan, maka disarankan membuat sebuah tanda atau pelinggih khusus yang berfungsi sebagai penghalang baik secara sekala maupun niskala.


Penggunaan sebuah aling-aling sebagai pembatas digunakan pada kondisi tertentu yang oleh Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam artikelnya di facebook disebutkan bahwa,

Sebuah aling-aling digunakan misalnya jika pintu masuk pekarangan sejajar dengan pintu kamar rumah, atau pintu pekarangan rumah yang sejajar / tumbak jalan maka diperlukan sebuah penghalang.


Jika kondisi pekarangan tidak seperti tersebut diatas, maka tidak perlu dibuatkan aling-aling.


Andaikata pekarangan memerlukan aling-aling namun tempat yang tidak memungkinkan, maka disarankan membuat sebuah tanda atau pelinggih khusus yang berfungsi sebagai penghalang baik secara sekala maupun niskala.


Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.

Via : Pesonataksubali.blogspot.com/arsitekturtradisionalrumahadatbali.blogspot.com/balibangol.blogspot.com

Foto By : Rangkuman Google

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?