Menarikan Barong, Menjaga "Taksu" Dunia

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Tari Barong" sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali


Secara etimologi kata “Barong” berasal dari bahasa Sansekerta, “Bharwang” yang berarti Beruang. Yang dimaksud beruang di sini adalah makhluk mitologi yang sering dijumpai dalam cerita rakyat Tantri dan Calonarang. Pendapat lain menyebutkan Barong berasal dari kata “Baruang”, yang bermakna “Dua Ruang”.


Wujud Barong yang sering dipertontonkan oleh masyarakat umumnya mengambil wujud binatang. Tapi terkadang masyarakat melakukan sebuah inovasi dengan membuat bentuk lain yang sesuai dengan kebudayaan di wilayahnya.


Matanya melotot tajam. Taringnya mencuat keluar. Badannya berbulu lebat. Sosoknya mengerikan. Itulah penampilan Barong Buntut, sosok makhluk mitologi dalam seni dan tradisi Hindu. Barong tidak hanya bentuk kesenian di Bali, tetapi juga menjadi artefak sakral dalam tradisi Bali dan diyakini memiliki fungsi religius dalam budaya Bali.


Perwujudan Barong Buntut menyerupai binatang buas perpaduan antara singa, macan, dan beruang atau gajah. Barong dipercaya sebagai roh penjaga, Banaspati Raja, yang mengawal manusia menjalani kehidupannya di dunia. Kehidupan manusia diwarnai pertempuran abadi antara kebaikan (dharma) dan kejahatan (adharma).


Dalam pergelaran dramatari "Calonarang" di Bali, Barong muncul saat warga kewalahan melawan kemurkaan Rangda. Penari yang kesurupan umumnya tersadarkan setelah terkena kibasan bulu Barong. Rangda kerap disebut sebagai ratu kekuatan jahat, tetapi Rangda juga dihormati sebagai sosok ibu yang penyayang dan disegani penguasa karena kesaktiannya. Rangda dikenal pula sebagai janda dari dirah dalam kisah Calonarang.


Miguel Covarrubias dalam buku Pulau Bali, Temuan yang Menakjubkan yang diterbitkan Udayana University Press (2013) menyebutkan, kalau Rangda betina, magis, dan "kiri", Barong dari pihak "kanan", yang jantan. Seperti Rangda, Barong diperlakukan dengan sangat hormat, dan orang Bali menyebutnya dengan gelar seperti Banaspati Raja, penguasa hutan, atau sebagai Jero Gede, "si besar".


Seniman dan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Ketut Suteja menyebutkan, Barong dan Rangda adalah Rwa Bhineda, dua unsur kekuatan yang berlawanan tetapi saling melengkapi, yang memutar roda kehidupan. Barong diwujudkan dalam bentuk menyerupai binatang. "Barong adalah simbol kekuatan pelindung alam," katanya di Denpasar, 23 Januari lalu.


Selain Barong Buntut, terdapat beragam jenis barong lain, antara lain Barong Keket, Barong Bangkal (babi hutan), atau Barong Macan. Ada juga Barong Landung atau Barong Brutuk yang hanya dipergelarkan pada upacara keagamaan. Barong Buntut serupa dengan Barong Keket atau Barong Ket. Jika Barong Buntut dibawakan oleh seorang penari, maka Barong Ket dibawakan dua penari.


Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.

Via : Pesonataksubali.blogspot.com/phdi.or.id/kumparan.com

Foto By : phinemo.com

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?