Kenapa Orang Bali Sering Membuat Rumah Yang Bangunannya Terpisah-Pisah ?
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Asta Kosala Kosali" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali
Rumah Bali merupakan penerapan dari pada filosofi yang ada pada masyarakat Bali itu sendiri. Ada tiga aspek yang harus di terapkan di dalamnya, aspek pawongan (manusia / penghuni rumah), pelemahan ( lokasi /lingkungan) dan yang terahir parahyangan. Kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara ke 3 aspek tadi. Untuk itu pembangunan sebuah rumah Bali harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana.
Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional Bali selalu dipenuhi pernik yang berfungsi untuk hiasan, seperti ukiran dengan warna-warna yang kontras tai alami. Selain sebagai hiasan mereka juga mengan arti dan makna tertentu sebagai ungkapan terimakasih kepada sang pencipta, serta simbol-simbol ritual seperti patung. Bali memiliki ciri khas arsitektur yang timbul dari suatu tradisi, kepercayaan dan aktifitas spiritual masyarakat Bali itu sendiri yang diwujudkan dalam berbagai bentuk fisik bangunan yang ada. Seperti rumah, pura (tempat suci umat Hindu), Banjar (balai pertemuan) dan lain-lain.
Astana Kosala Kosali merupakan sebuah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. penataan Bangunan yang dimana di dasarkan oleh anatomi tubuh yang punya. Pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari Tubuh yang mpunya rumah. Mereka tidak menggunakan meter tetapi menggunakan seperti :
▶ Musti [ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas].
▶ Hasta [ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka].
▶ Depa [ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan].
Jadi nanti besar rumahnya akan ideal sekali dengan yang mpunya rumah. nah selain itu Konsep ini juga berdasarkan oleh Kepercayaan masyarakat bali akan Buana Agung [Makrokosmos] & Buana Alit [Mikrokosmos]. Kosmologi Bali itu bisa digambarkan secara hirarki atau berurutan seperti :
1. Bhur alam semesta,tempat bersemayamnya para dewa.
2. Bwah,alam manusia & kehidupan keseharian yang penuh dengan godaan duniawi,yang berhubungan dengan materialisme
3. Swah,alam nista yang menjadi simbolis keberadaan setan & nafsu yang selalu menggoda manusia untuk berbuat menyimpang dari dharma.
Selain itu juga Konsep ini berpegang juga kepada mata angin, 9 mata angin [Nawa Sanga].
Setiap bangunan itu memiliki tempat sendiri.
seperti misalnya dapur,karena berhubungan dengan api maka dapur ditempatkan di selatan,tempat Sembahyang karena berhubungan dengan menyembah akan di tempatkan di timur tempat matahari terbit. Karena Sumur menjadi sumber air maka ditempatkan di utara dimana gunung berada dsb.
Umumnya Bangunan Rumah Adat Bali terpisah-pisah manjadi banyak bangunan-bangunan kecil-kecil dalam satu area yang disatukan oleh pagar yang mengelilinginya. Seiring perkembangan jaman mulai ada perubahan bangunan tidak lagi terpisah-pisah.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : pesonataksubali.blogspot.com/raidersf16site.worpress.com/mynameaprie.blogspot.com
Foto By : Rangkuman Google



Comments
Post a Comment