Inilah Perbuatan Berdosa Yang Wajib Dihindari Agar Tidak Menemui Petaka
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Catur Pataka" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali
Kata Catur Pātaka berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Catur dan Pātaka. Catur artinya empat dan Pātaka artinya dosa. Jadi, Catur Pātaka adalah empat jenis perbuatan yang berdosa. Adapun Contoh-Contoh Perilaku Catur Pātaka adalah sebagai berikut:
1. Contoh Perilaku Pātaka
Setiap hari kita sering mendengar orang melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak baik, seperti pembunuhan, kekerasan, dan yang lain. Perilaku yang tergolong Pātaka atau dosa, meliputi:
• Bhrunaha artinya menggugurkan kandungan. Perbuatan orang yang seperti ini tergolong orang yang berdosa, karena tidak memberikan kesempatan kepada bayi yang akan lahir ke dunia ini untuk hidup.
• Purusaghna artinya melakukan pembunuhan terhadap sesama manusia lain. Orang yang melakukan pembunuhan terhadap orang lain yang tidak bersalah, termasuk orang yang berdosa. Karena hidup atau matinya seseorang ditentukan oleh Sang Hyang Widhi.
• Kanyacora artinya menculik atau melarikan seorang gadis. Perilaku demikian tergolong perilaku berdosa, karena orang yang diculik atau dilarikan tersebut kehilangan kebebasannya.
• Agrayajaka artinya kawin mendahului kakak laki-laki atau kakak perempuannya. Perbuatan ini juga dikatakan berdosa karena orang tersebut tidak mengindahkan hukum agama.
2. Contoh Perilaku Ūpa Pātaka
PerbuatanmembunuhdalamkitabSlokantaradikatakanperilaku yang tergolong Ūpa Pātaka atau dosa sedang, antara lain:
• Gowadha artinya membunuh sapi. Dalam agama Hindu, sapi telah dianggap seperti ibu. Oleh karena itu, orang yang membunuh sapi dianggap sudah melakukan dosa sedang, (Duwijo dan Susila, 2014: 26).
• Yuwatiwadha artinya membunuh wanita muda. Orang yang melakukan pembunuhan pada wanita muda dianggap melakukan dosa sedang, karena perbuatan tersebut bertentangan dengan agama Hindu.
• Bala-wadha artinya membunuh anak-anak. Orang yang melakukan pembunuhan terhadap anak-anak tergolong orang yang melakukan dosa sedang, sebab anak-anak tersebut belum tahu apa-apa. Oleh karenanya, berdosalah orang membunuh anak-anak.
Wrddha-wadha artinya membunuh orang tua. Jika ada seseorang membunuh orang tua, maka orang tersebut telah melakukan dosa.
• Agnidaha artinya membakar rumah dan penghuninya. Jika ada seseorang yang membakar rumah dan penghuninya, orang tersebut telah melakukan dosa sedang sebab perbuatanya dapat menyebabkan kematian.
3. Contoh Perilaku Maha Pātaka
Berikut ini adalah contoh perilaku Maha Pātaka.
• Brahma-wadha artinya membunuh Brāhmanā atau orang suci. Orang yang berani membunuh orang suci tergolong dosa besar. Orang suci adalah orang yang dapat membimbing kita menuju jalan yang benar.
• Perilaku minum-minuman keras disebut surapana. Surapana tergolong dosa besar, karena dengan meminum-minuman keras, orangtersebut sering lepas kendali dan menyebabkan keresahan dalam masyarakat.
• Suwarnasteya artinya mencuri emas atau barang milik orang lain. Suwarnasetya tergolong dosa besar, karena mencuri barang milik orang lain menyebabkan keresahan dalam masyarakat, (Duwijo dan Susila, 2014: 27).
• Guru-wadha artinya membunuh guru. Jika ada seseorang melakukan pembunuhan terhadap guru, maka orang tersebut telah melakukan dosa besar, sebab dengan membunuh guru, maka orang tersebut telah menghilangkankesempatan oranglainuntukmendapatkan ilmu dari guru tersebut.
4. Contoh Perilaku Āti Pātaka
Perilaku yang tergolong dosa terbesar (Āti Pātaka) dalam pandangan Agama Hindu dijelaskan dalam kitab Slokantara, sebagai berikut:
• Swaputri-bhajana artinya melakukan perbuatan asusila putri sendiri. Melakukan perbuatan asusila terhadap putri kandung sendiri tergolong melakukan dosa yang sangat besar, karena orang tersebut tidak memiliki nurani.
• Matr-bhajana artinyamelakukan perbuatan asusilaterhadap ibu sendiri. Jika ada orang yang melakukan perbuatan ini, maka dia akan masuk neraka. Orang yang melakukan matrbhajana termasuk orang yang tidak berbudi luhur.
• Lingga-grahana artinya orang yang merusak tempat-tempat suci. Jika ada orang yang melakukan perbuatan ini, berarti orang tersebut tidak memiliki rasa peduli akan agama.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : pesonataksubali.blogspot.com/mutiarahindu.com
Foto By : lintas_dewata.wordpress.com

Comments
Post a Comment