Dari "Merasa Sadar" sampai Benar-Benar Eling
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Eling" sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali
Eling adalah ingat dan sadar dalam Bahasa Balinya Sebagai isyarat agar kemanapun kita pergi hendaknya selalu memohon perlindunganNya;
Dan bisa dipastikan kalau seorang pendamba kebenaran sejati adalah seseorang yang sudah insyaf dan mereka yang sudah éling.
"Eling" sebagai sebuah kata yang unik, ketika mendapatkan awalan Ng menjadi kata Ngeling yang berarti mengalirnya tetesan air mata. Tetapi jika mendapatkan awalan Pe menjadi Pangeling-ngeling yang berarti pemberkahan. Maka dari itu, hendaknya manusia sebagai ciptaanNya disebutkan senantiasa eling dengan sujud dan bhakti kepadaNya dengan tujuan untuk dapat menyampaikan penghormatan, pemberitahuan, perasaan hati dan pikiran. Dan selalu memohon perlindunganNya seperti yang telah diisyaratkan dalam ngaturang piuning sebelum melaksanakan sesuatu & dalam penggunaan sebuah simbol patra kakul sebagai motif hias.
Bentuk dan tahapan Kesadaran-ragawi
Adalah fakta yang tak terbantahkan kalau kita semua 'merasa sadar'. Ini baru memposisikan diri kita hanya sebagai subjek. Namun, mesti diakui Juga kalau, walaupun kita telah merasa sadar kita belum jelas betul akan keberadaan kita sendiri maupun akan hal-hal dan keberadaan-keberadaan lain berikut segala bentuk hubungan yang terkait dengannya. Hanya setelah semua itu jelas buat kitalah, kita baru muncul objek, selain subjek yang adalah diri kita sendiri dan fakta keterkaitan yang tak terpisahkan di antara keduanya, keterkaitan mana mempertegas keberadaan kita secara lebih utuh dan lebih menyeluruh.
Bila kita coba uraikan tahapan-tahapan dari kesadaran keberadaan subjek-objek ini, ia ternyata tersusun atas lima tahapan, yang kurang lebih, sebagai berikut:
1. Bentuk kesadaran yang juga merupakan tahap pertama dari kesadaran atau keinsyafan seorang anak manusia adalah, bahwasanya ia telah terlahirkan di dunia ini sebagai atau berjasad manusia, dari orangtua tertentu dan di dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial-budaya tertentu.
2. Menyusul setelah itu, sementara itu ia temukan juga bahwasanya sangat banyak hal-hal dan keberadaan-keberadaan lain yang punya keterkaitan-langsung maupun tidak langsung-dengan kelahirannya ini, ia pun mulai berpikir : apa yang perlu dan mesti saya perbuat atas semua fakta ini?, sebagai bentuk kesadaran tahap kedua.
3. Ia pun mulai melihat dengan lebih seksama pada, dan mencari-tahu sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya tentang setiap keber¬adaan dan fakta-fakta di seke¬lilingnya. Hasil amatannya dan pengetahuan yang diperolehnya tentang semua itu membuatnya sadar bahwasanya ada juga sejenis hukum yang bersifat universal yang berfungsi sebagai pengatur dari segenap keberadaan itu. Inilah bentuk atau tahap kesadaran ketiga.
4. Hanya setelah munculnya bentuk kesadaran tadilah ia mulai memikirkan tentang : apa yang perlu dan mesti saya perbuat berkaitan dengan keberadaan-keberadaan lain ini? disamping mencari-tahu lebih banyak dan lebih mendalam lagi tentang hukum universal yang berfungsi mengatur itu. Inilah yang menyusun tahap kesadaran keempat.
5. Bersamaan dengan semakin jelasnya hukum universal itu baginya, ia pun mulai mencoba berbuat sebaik-baiknya, baik bagi dirinya sendiri, orang-orang dan alam di sekitarnya maupun demi harmonisasi dengan keberadaan-keberadaan lainnya itu. Inilah yang menyusun tahap kesadaran kelimanya.
Saya tidak tahu apakah Anda menyetujui atau tidak tahapan-tahapan ini. Namun saya mohon Anda bersedia meluangkan waktu untuk merenung-kannya sejenak, sebelum menyetujui ataupun menolaknya. Renungkanlah, bukankah demikian kejadiannya?
Bila Anda bisa menerimanya, marilah kita lanjutkan lagi penelurusan kita ini. Sampai pada tahap kesadaran kelima inilah seseorang sudah bisa disebut 'orang yang sadar' akan keberadaan jasmaniah atau ragawinya sendiri, sadar juga kalau ada keberadaan-keberadaan lain selain dirinya, dan sadar akan adanya hukum universal yang mengatur semua ini, serta perlunya harmonisasi di antara semua keberadaan. Sebelum itu, ia belum bisa dianggap sadar; belum bisa dianggap terjaga; masih tertidur, bermimpi atau malah ngelindur dan tidur berjalan. Tanpa bermodalkan kesadaran ini, apapun yang ia perbuat dan dimanapun ia dan berkiprah dalam mengisi keberadaannya di dunia ini, bisa-bisa malah hanya mengacaukan dan mendatangkan bencana, baik bagi dirinya sendiri maupun keberadaan lain, tabrak-sana-tabrak-sini, langgar-ini langgar-itu, tak ubahnya pengemudi mabuk bukan?
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : Pesonataksubali.blogspot.com/phdi.or.id/sejarahharirayahindu.blogspot.com
Foto By : TrekEarth

Comments
Post a Comment