Bhagawadgita Bertujuan Untuk Menyelamatkan Manusia Dari Kebodohan Duniawi
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Bhagawadgita" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali
Ajaran Bhagawadgita bermaksud menyelamatkan manusia dari kebodohan kehidupan duniawi. Bhagawadgita juga mengandung maksud untuk melepaskan manusia dari penderitaan. Melalui ajaran Bhagawadgita Shri Krishna sebagai Awatara Wisnu yang bertugas memelihara dunia, menyadarkan manusia apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidupnya, apabila manusia lupa akan tujuan itu. Sebenarnya kita semuanya diliputi oleh kebodohan, sehingga kita mulai bertanya, "mengapa kita menderita, dari mana sebenarnya asal kita, kemana tujuan kita setelah meninggal. Maka untuk menyadarkan manusia dari kebodohan itulah Bhagawadgita disabdakan. Kitab suci Bhagawadgita memberi penjelasan dengan terang benderang tentang prinsip-prinsip dari agama spiritual.
Dalam Bhagawadgita kita mempelajari bahwa semua makhluk hidup dan alam semesta dikuasai dan dikendalikan oleh Tuhan. Menurut Bhagawadgita makhluk hidup adalah merupakan bagian dari Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai sifat yang sama seperti Tuhan, (Sumarni dan Raharjo, 2015:105).
Akan tetapi karena makhluk hidup dibelenggu oleh tiga sifat yaitu sifat kebaikan, sifat nafsu dan kebodohan, menyebabkan makhluk itu lupa dan menderita. Apabila manusia dicemari oleh dunia material (keduniawian), maka Bhagawdgitalah yang dimaksud untuk membangkitkan kesadaran suci itu untuk membebaskan manusia dari belenggu dunia material (keduniawian).
Nilai-nilai yang terkandung Dalam Bhagawadgita
Tuhan memenuhi keinginan penyembahnya sesuai dengan cara pendekatannya. Perhatikanlah seloka di bawah ini!
"Ye yathā māṁ prapadyante
Tāṁs tathai ‘ va bhajāmy aham
Mama vartmānuvartante
Manuṣyāḥ pārtha savasaḥ", (Bhagawadgita. IV.11)
Terjemahan:
"Dengan jalan bagaimanapun orang-orang mendekati, dengan jalan yang sama itu juga memenuhi keinginan mereka. Melalui banyak jalan manusia mengikuti jalanku, O Partha", (G.Puja, 1999:112)
Memperhatikan bunyi seloka di atas menunjukkan bahwa waranugraha Tuhan diberikan kepada siapapun yang mendekati-Nya dengan penyerahan bhaktinya dengan caranya sendiri-sendiri. Tuhan menerima semua harapan- harapan menurut alamnya sendiri, mulai dari mereka yang menggunakan sajen-sajen, sampai pada tingkat bersemadi, Tuhan memberikan waranugra-Nya. Tuhan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap orang yang menyerahkan diri kepada-Nya, dan Tuhan membebaskannya dari reaksi dosa yang dilakukannya, (Sumarni dan Raharjo, 2015:106).
Salah satu sifat Tuhan Yang Maha Esa adalah Vidhi, berarti Maha Tahu. Dalam konsep Ketuhanan Hindu di Indonesia, sifat Vidhi inilah yang paling banyak diketahui. Lalu dengan mengadopsi bahasa Bali dan Cina muncullah frase “ Ida Sang Hyang Vidhi Wasa.” Jadilah, nama Tuhan kita adalah “ Ida Sang Hyang Widhi Wasa” yang berarti Beliau yang maha mengetahui dan maha kuasa. Tuhan Yang Maha Esa dalam ajaran Hindu disebut dengan ribuan nama ribuan nama itu adalah nama yang diperuntukkan kepada sifat-sifat, karakter atau aspek kemahakuasaan-Nya yang sangat didambakan oleh umat manusia ( Suryanto, 2006 : 117).
Dalam kitab-kitab Upanisad dikatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan kebenaran yang tertinggi dan maha mutlak. Tak ada kebenaran yang melebihi Beliau. Hal ini sesuai dengan apa yang diuraikan dalam Bhagavad-gita bab 7 sloka 7 sebagai berikut :
vadanti tat tattva vidas
tattvam yaj jnanam advayam
brahmeti paramatmeti
bhagavan iti sabdyate
Artinya : Para rohaniwan terpelajar yang mengenal kebenaran Mutlak menjuluki zat yang tidak nisbi tersebut Brahman, Paramatma dan Bhagavan (Prabhupada, 1994 : 109).
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : pesonataksubali.blogspot.com/mutiarahindu.com/winaraya.wordpress.com
Foto By : @_dw.artwork_ (ilustrasi)


Comments
Post a Comment