Mengenal Jenis-Jenis Cuntaka (Cemer Atau Leteh) Lebih Mendalam

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Jenis Jenis Cuntaka" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.


Istilah cuntaka mengandung suatu pengertian mengenai suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu. Kata cuntaka berasal dari bahasa Jawa Kuno (bahasa Kawi) yang artinya suatu keadaan tidak suci akibat dari suatu kematian. Berdasarkan atas pengertian tersebut, berarti setiap kematian akan dapat menyebabkan keadaan cuntaka. Kematian yang dimaksud dalam pengertian ini adalah akibat kematian manusia. Sedangkan kematian bagi makhluk lain tidaklah menyebabkan cuntaka.


Di dalam lontar Çiwa Çasana ada disebutkan istilah “cuntaka janma” yang berarti orang hina dalam kehidupannya. Orang yang dipandang cuntaka janma di dalam lontar Çiwa Çasana adalah orang yang dijadikan korban, orang yang diserahkan pada waktu upacara Sawa Wedhana atau dalam upacara Asti. Dari sumber ini membawa pengertian bahwa cuntaka mengandung pengertian yang cukup luas meliputi keadaan yang abstrak dan relatif, karena masalah hina dan jelek serta kotor (cemer) adalah masalah nilai yang tidak sama pada masing – masing orang.


Jenis-Jenis Kecuntakaan:

A. Cuntaka lantaran kotor lahiriah ( sebel )

Hindari Bedarah darah masuk pura, yang sedang Menstruasi, luka berdarah termasuk tukang paebat yang tangannya masih belepotan dengan darah.

Hindari netekin / menyonyonin di pura.

Hindari badan yang masih kotor, belepotan masuk pura, sehingga menimbulkan nuansa yang tidak sreg untuk sembahyang bagi yang lainnya yg datang sembah. Hindari membuang kotoran dipura ( buang air besar / kecil) Hindari rambut jatuh di pura, sehingga diusahakan untuk mepusungan ke pura bagi yang istri, bagi yang lanang jangan potong rambut, kumis, jenggot dipura.

Hindari meninggalkan kotoran, daki,bagian dari tubuh kita di pura, misalnya potong kuku, gosok gigi, korek kuping dsbnya.

Terkadang ada yang menerapkan bagi anak wanita yang sudah semestinya datang bulan, tetapi sudah tutug kelih bulannya tak kunjung datang.


B. Cuntaka lantaran manah ( sebet )

Ada bagian keluarga yang meninggal ( Umumnya mereka yg tunggal sembah ) penerapan awig awig ini sangat beraneka ragam : Area Sebelnya ada sebatas tunggal sembah, sebatas tembok kiri kanan depan belakang, ada sampai sebatas dusun dan juga terkadang ada sampai satu desa.

Demikianpun durasi lama waktu cuntaka ini, sangat bervariasi, ada sebatas s/d Ngerorasin bagi yang meninggal, ada sebatas ngelinggihan dewa hyang tergantung dari commitment krama adat itu sendiri.

Hilang ingatan ( dianggap mati ) mayat berjalan

Kelahiran Bayi ( puput puser batas cuntaka sang ayah), dan 42 hari batas cuntaka sang Ibu.

Pada umum cuntaka seperti diatas ini penerapannya hampir sama, namun terkadang ada juga yg berbeda, tetapi perbedaannya tidak terlalu menjolok. Nah inilah biasanya di buatkan awig awig dalam tatanan masuk pura yang bertujuan untuk menjaga kesucian pura yang merupakan milik orang banyak.


C. Cuntaka yang tidak dapat diprediksi/diduga/diperkirakan.

Ada beberapa cuntaka yang sangat sulit untuk dideteksi orang lain, malahan terkadang hanya orang yang bersangkutan saja mengetahui dirinya tak layak untuk ke pura Sehingga pikiranya menjadi labil misalnya: Telah melakukan perbuatan asusila, nyolong, memfitnah, berkelahi (tetapi orang lain belum tentu tau kondisinya) Gamya Gemana – kawin dengan cara yang tidak wajar ( dg ibu kandung, anak, dengan binatang dsbnya) Marah marah Mojar gangsul, nangun kroda, sehingga kalau dipaksakan dirinya berada di pura bisa jadi akan mempengaruhi keheningan dalam sembahyang.


Lama Masa Cuntaka


Mengenai lama masa cuntaka yang dialami dari masing – masing penyebab cuntaka sudah tentu berbeda-beda satu sama lainnya. Demikian pula cuntaka karena kematian antara keluarga dekat dengan keluarga jauh dan juga warga masyarakat yang membantu pelaksanaan upacara berbeda pula lama masa cuntaka yang dialaminya. Lamanya masa cuntaka sangat ditentukan oleh kadar berat ringannya pengaruh cuntaka terhadap kesucian. Akan tetapi untuk dapat melaksanakan pengajaran agama dengan selaras, seimbang, tertib, aman serta mewujudkan gerak langkah yang sama antar umat maka cuntaka sangat perlu sekali diberi batasan waktu, sehingga bagi orang mengalami cuntaka sudah ada pedoman dasar serta pandangan yang jelas dalam dirinya.


Lama masa cuntaka yang dialami oleh empat golongan manusia (catur wangsa) dinyatakan dalam lontar cuntaka sebagai berikut :


Brahmana dasa ratrena dwadasa ratrya bhumijah, waisya panca dasa ratriyam, sudra sena suddhyate.


Artinya :

Seorang Brahmana akan suci kembali setelah sepuluh hari, seorang kesatriya setelah 12 hari, wesya setelah 15 hari dan sudra akan suci kembali setelah satu bulan. Kutipan tersebut mengaitkan cuntaka akibat kematian dengan kehidupan manusia tergolong catur wangsa. Perbedaan masa cuntaka yang dihubungkan dengan catur wangsa inilah dikenal dengan istilah Catur Cuntaka.


Sumber Hukum Hindu mengenai Cuntaka dalam kitab suci dan atau lontar yang dapat dipakai sebagai sumber antara lain :

1. Manawa DharmaSastra | saat jaman manu / satya yuga

2. Parasara Dharmasastra | saat jaman kali yuga dimulai

3. Agastya, Roga Sangara, Widhi Sastra.

4. Catur Cuntakantaka

5. Catur Cuntaka.

6. Pangalantaka.


Sloka-Sloka Cuntaka Karena Kelahiran Dan Kematian Berdasarkan Kitab Parasara Dharmasastra

Parasara Dharmasastra III.1-2


ATAH SUDHIM PRAVAKSYAMI JANANE MARANE TATHA,

DINE TRAYENA SUYANTI BRAHMANAH PRETA SUTAKE.

KSATRYO DVADASA HENA VAISYAH PANCADASA HAKAH,

SUDRAH SUDEYATI MASENA PARASARA VACO YATAHA.


Sekarang aku akan menjelaskan tentang periode atau masa ketidaksucian seseorang yang berhubungan dengan kelahiran dan kematian (dari anggota keluarganya)


Masa kotor yang disebabkan oleh kelahiran atau kematian dalam keluarga, bagi kaum brahmana selama 3 hari, bagi ksatrya 12 hari, bagi vaisya 15 hari dan bagi sudra 30 hari, seperti yang ditetapkan oleh yang suci Parasara.

Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih

Via : pesonataksubali.blogspot.com/paduarsana.com/ibgwiyana.wordpress.com/sejarahharirayahindu.blogspot.com

Foto By : sejarahharirayahindu.com

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?