Mengapa Bali Dianggap Mampu Mencerminkan Adanya Toleransi Antar Umat Beragama ?
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Toleransi Umat Beragama Di Bali" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
Bali merupakan provinsi yang mayoritas penduduknya Hindu. Namun, di pulau ini, toleransi antarumat beragama sangat kental. Sikap menyama braya dikalangan umat beragama di Bali hingga kini masih sangat kental. Perbedaan keyakinan semakin mempererat toleransi umat beragama di Bali yang sudah terjalin sejak lama. Masyarakat di Bali menunjukan sikap saling menghargai dengan mempersilahkan umat lain melaksanakan persembahyangan sesuai keyakinan masing-masing. Kehangatan hubungan diantara umat beragama ini tentu harus terus dijaga dan ditingkatkan.
Ketua MPR Bambang Soesatyo menilai Bali menjadi contoh nyata bahwa dengan mengedepankan toleransi, kesetaraan dan kerjasama antar umat beragama bisa diwujudkan. Sehingga para pemeluk agama bisa hidup dengan damai.
“Keharmonisan hidup para pemeluk agama di Bali juga tercermin dari keberadaan Pusat Peribadatan Puja Mandala. Di kawasan ini terdapat lima tempat ibadah yang aktif menjalankan kegiatan peribadatan, sebagai simbol penegasan toleransi dan kerukunan umat beragama di Bali,” ujar Bamsoet saat mengunjungi Puja Mandala, bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali yang dipimpinan oleh Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesaia, Ida Pangelisir Agung Putra Sukahet, Rabu (23/12/2020).
Ketua DPR RI ke-20 ini memaparkan, Indeks Kerukunan Beragama (IKB) di Bali juga selalu berada di atas IKB Nasional. Misalnya di tahun 2018 ketika IKB nasional berada di angka 70,90, IKB di Bali mencapai 75,4. Sedangkan di tahun 2019, ketika IKB nasional mencapai angka 73,83, IKB Bali mencapai 80,1.
Adapun beberapa bukti bahwa bali merupakan pulau sumber toleransi yaitu :
1. Pura Puja Mandala
Di Jalan Darmawangsa Nusa Dua, Badung ada tempat ibadah bernama Puja Mandala. Puja Mandala ini memiliki tempat peribadatan semua umat beragama di Indonesia, yang berada di satu kompleks. Tempat peribadatan tersebut adalah Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Dua dan Pura Jagatnatha. Meski letaknya berdampingan, semua umat bisa bertoleransi dengan baik dan menjalankan peribadatan sesuai dengan keyakinan masing-masing tanpa adanya tekanan
2. Masjid Al Hikmah Kesiman
Gunakan Ukiran Bali "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung," kata Darmuji, pengurus Yayasan Al Hikmah Hasanah ketika menceritakan tentang asal-usul pembangunan Masjid Al Hikmah saat ditemui usai melaksanakan shalat zuhur diMasjid Al Hikmah. Masjid yang terletak di Jalan Soka, Kesiman, Denpasar ini memiliki arsitektur yang unik, yakni menggunakan arsitektur Bali. Ketika melihat pintu gerbang atau angkul-angkul masjid ini, mata akan disuguhi pemandangan ukiran khas Bali. Semisal ada karang (ragam jenis ukiran) gajah, karang simbar, karang kakul dan jenis ragam ukiran Bali lainnya
3. Umat Buda dan Hindu di Baturiti
Etnis keturunan Tionghoa dan krama Bali di Baturiti, Tabanan, Bali memang sudah seperti keluarga sejak lama. Etnis keturunan Tionghoa selalu memberikan sumbangan untuk segala jenis upacara manusia dan keagamaan yang ada di Desa Baturiti, seperti odalan di Pura Desa atau Pura Puseh. Begitu pula saat ada acara kematian, etnis keturunan Tionghoa juga akan ikut melayat dan membantu. Saat Nyepi pemuda-pemudi Tionghoa di Desa Baturiti juga ikut pawai ogoh-ogoh di bawah naungan seka teruna. Begitu juga saat keturunan Tionghoa memiliki acara, etnis Bali juga akan mengulurkan tangannya memberi bantuan, menyumbangkan pikiran mereka, tenaga, bahkan materi.
Saat Abhiseka Buddha Rupang atau menempatkan patung Buddha dalam ruang dhammasala Vihara Dhammadana, Baturiti, warga banjar yang ada di Desa Baturiti turut ngayah (membantu). Mereka membuat penjor yang ditancapkan di sepanjang jalan raya menuju ke Vihara, parade gebogan, gamelan gong.
4. Tradisi Ngejot
Memberi sesuatu pada orang lain saat ada upacara atau biasa disebut ngejot merupakan tradisi yang ada di Bali. Tradisi ini juga berlaku antar umat beragama. Misalkan saja saat lebaran, masyarakat Muslim memberi makanan seperti opor kepada umat Hindu. Begitu pula saat Galungan dan Kuningan ada ngejot buah dan jajan ke umat Muslim.
5. Tradisi Megibung
Di Masjid Al-Muhajirin, Kampung Islam Kepaon, Pemogan, Denpasar ada tradisi megibung saat buka puasa. Tradisi ini, kata dia sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Bedanya, megibung yang dilakukan ini sebagai bentuk rasa syukur dan meluapkan kegembiraan di Bulan Suci Ramadan setelah selama 10 hari penuh khataman atau menuntaskan membaca Al-Quran sebanyak 30 juz. Di lain sisi, megibung menjadi ajang mempererat rasa persaudaraan antarwarga, baik sesama umat muslim maupun umat Hindu. Tradisi megibung ini lebih populer di Karangasem yang dimulai sejak zaman kerajaan di Karangasem.
6. Toleransi Hindu-Islam saat Usaba Dansil
Di Desa Bungaya, Karangasem ada Usaba Dansil. Meskipun ini tradisi Umat Hindu, namun umat Islam di Desa Bungaya, Karangasem, Bali juga ikut. Warga Muslim ini diberi kehormatan menarik tali dansil tertinggi, di antara tujuh dangsil yang diarak warga dari 15 desa lainnya. Disebut dansil terbesar tak bisa bergerak karena umat Islam tak hadir. Warga muslim juga punya peran penting dalam satu tahapan ritual di pura, lokasi persembahyangan.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : pesonataksubali.blogspot.com/tribunbalinews.com/pontas.id
Foto by : Rangkuman Google


Comments
Post a Comment