Kesalahpahaman Masyarakat Tentang Istilah "Tali Wangke" Di Bali

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Tali Wangke" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.


Tali Wangke (Taliwangke) adalah salah satu nama pedewasan (hari yang dinyatakan baik) untuk mengikat segala jenis benda yang berhubungan dengan benda mati, seperti mengikat alang-alang untuk atap, baik juga dimulai nya menganyam untuk melapisi sesaka (tiang) dengan menggunakan rotan atau tali ata. Namun sayang sering terjadi kesalahpahaman\penafsiran yang keliru dimasyarakat (tali = tali pengikat dan wangke = mayat sehingga diartikan tali mayat atau tali pengikat peti mayat), sehingga terbentuk opini bahwa tali pengikat peti orang mati pantang digunakan untuk mengikat ternak. 


Karena demikianlah kemudian tali peti jenasah itu tidak ada yang mau mengambilnya untuk di bawa pulang, kasian kan. Padahal maksudnya adalah pada waktu rahina yang disebut TALIWANGKE dinyatakan tidak baik untuk memulai mengikat ternak.


Disebut rahina TALIWANGKE itu terjadinya pertemuan pancawara sama wuku diantaranya :

• Hari senin di wuku uye,

• Selasa diwuku wayang

• Rabu diwuku landep

• Kamis diwuku wariga

• Jumat di wuku kuningan

• Sabtu di wuku kerulut


Dalam buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga dijelaskan mengenai kehadiran dari Titi Buwuk, Taliwangke dan Lebur Awu tersebut. Titi Buwuk dimaknai sebagai hari pantangan berupa membuat jembatan dan yang sejenisnya, juga tidak baik untuk bepergian dalam usaha mencari solusi permasalahan (matedung/matenung) dan sebagainya.


Sementara Taliwangke baik dipakainuntuk mengikat atap ilalang, mengikat tiang (saka) dengan anyaman rotan dan mengikat segala jenis benda mati, namun tidak baik untuk mengikat hewan ternak. Kehadiran Taliwangke biasanya pada Coma Wuku Uye, Anggara Wuku Wayang, Budha Wuku Landep, Wrespati Wuku Wariga, Sukra Wuku Kuningan dan Saniscara Wuku Kerulut.


Titi Buwuk dan Taliwangke ini merupakan ala ayuning dewasa berdasarkan pertemuan antara Wuku dengan Saptawara. Sedangkan untuk Lebur Awu kemunculannya sebagai ketetapan hari jelek untuk membuat rumah dan melakukan upacara atau prosesi pemakuhan, namun baik untuk membuat terusan baru sebuah sungai. Ketentuan hadirnya Lebur Awu yakni berpedoman pada Sapta Wara dan Asta Wara yaitu pada Redite Indra, Soma Uma, Anggara Rudra, Budha Brahma, Wrespati Guru, Sukra Sri dan Saniscara Yama.


Dalam susunan kalender Bali memang dikenal istilah ala ayuning dewasa yang berarti baik-buruknya suatu hari dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tertentu.


Dewasa atau padewasan yang biasa disebut ilmu wariga ini, seperti yang dijelaskan dalam buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga tersebut adalah cara untuk mengidentifikasi hari yang baik dan hari yang jelek (buruk).


"Jelasnya (padewasan itu adalah) pengetahuan untuk menentukan hari baik dan hari jelek," tulisnya lagi.

Cakupan mengenai ala ayuning dewasa ini sangatlah luas dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia melalui perhitungan parameter tertentu.


Perhitungan yang dimaksud berupa pawintangan yang ditetapkan berdasarkan letak bintang dalam mengelilingi matahari; sasih yang berhubungan dengan penentuan musim berdasarkan peredaran gerak semu matahari dan juga bulan yang mengelilingi bumi; dan wuku tentang ilmu ruas-ruas kumpulan binatang tertentu yang berporos di bumi


Demikianlah dikutip dari keterangan Ade Hartawan dalam salah satu artikel group Hindu di fb yang disebut padewasan taliwangke bukanlah merunjuk ke tali peti mayat. Dalam susunan kalender Bali memang dikenal istilah ala ayuning dewasa yang berarti baik-buruknya suatu hari dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tertentu.


Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.

Via : pesonataksubali.blogspot.com/sejarahharirayahindu.blogspot.com/tribunbali.com

Foto by : sejarahharirayahindu.com

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?