Cara yang Baik Bagi Perjalanan Atman Meninggalkan Marcapada Berdasarkan Buku Samsara

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Cara Perjalanan Atman" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.


Di alam kematian, satu-satunya fokus yang harus dan wajib kita lakukan adalah menemukan jalan menuju alam-alam suci. Apapun rasa kehilangan kita, apapun kejadian pada mereka yang masih hidup, apapun tugas-tugas kita yang belum terselesaikan, dan sebagainya, segera lupakan itu semua, karena tidak ada satupun lagi yang bisa kita lalukan.


Walaupun seandainya atma seseorang gentayangan di dimensi halus alam marcapada [mrtya loka] sebagai “hantu”, jangan bingung, sedih atau takut. Dia harus berusaha untuk meninggalkan alam Marcapada ini dengan cara-cara atau perjalanan yang baik. Terutama sekali kalau bisa mengupayakannya secara mandiri. Dan ada 3 [tiga] kemungkinan perjalanan atma meninggalkan alam marcapada dengan cara yang baik atau diharapkan, yaitu :


1. CARA PERTAMA : UPAYA MANDIRI ATMA UNTUK MENEMUKAN JALAN MENUJU ALAM SUCI

Ketika seseorang mengalami kematian, dia akan melewati dua kesempatan untuk mencapai moksha dan empat kesempatan untuk memasuki alam-alam suci melewati lorong cahaya alam antarabahava. Kalau dia mengalami kegagalan, atma kemudian akan memasuki kondisi sushupti [tidur lelap tanpa mimpi] untuk jangka waktu tertentu. Atma akan kembali ke alam Marcapada, menjadi atma gentayangan. Ketika terbangun dari sushupti dia akan mendapati dirinya kembali berada di alam Marcapada, menggunakan lapisan badan linga sarira [badan halus] menjadi atma [hantu] gentayangan. Disini sangat perlu ditekankan, bahwa dia HARUS SECEPATNYA MENYADARI BAHWA DIA SUDAH MATI. Karena dia tidak memiliki banyak waktu untuk dapat menemukan jalan terang untuk memasuki alam-alam suci secara mandiri.


Ciri-ciri dari sebuah kematian adalah biasanya dia akan melihat sthula sarira [badan fisik-nya] sendiri terbaring tak berdaya padahal dia ada berdiri di sebelahnya, atau dia melihat keluarga di sekitarnya menangis sedih, atau melihat orang sibuk mempersiapkan upakara kematian, dsb-nya. Kenali dan ingat ciri-ciri tersebut dengan baik.


MEMASTIKAN KEMATIAN

Kalau itu yang terjadi, kalau itu yang dilihat dan dialami, atma harus segera secepatnya memastikan kematiannya sendiri. Caranya yang paling mudah tapi sangat akurat adalah sebagai berikut ini :


1. Segeralah mencari cermin

Lihat di cermin. Kalau tidak ada melihat badan fisik sendiri [tidak ada terlihat bayangan badan fisik di cermin, atau terlihat sebagai ruang kosong], itu pertanda artinya kita sudah mati.


2. Segeralah mencari cahaya terang

Kalau di dekat sekitar kita tidak ada cermin, segeralah mencari cahaya terang seperti cahaya lampu, cahaya matahari, dsb-nya. Berdirilah di bawah cahaya terang itu, kalau tidak ada melihat bayangan badan fisik, itu pertanda artinya kita sudah mati.


SECEPATNYA BERUPAYA MELANJUTKAN PERJALANAN

Segera setelah memastikan bahwa dirinya sudah mati, sangat tidak penting menunggui keluarga yang menangis, sangat tidak penting memikirkan pekerjaan yang belum tuntas, sangat tidak penting memikirkan perusahaan, sangat tidak penting memikirkan kekayaan, dsb-nya. Karena pertama yang sudah mati tidak akan dapat melakukan apa-apa lagi dengan semua itu. Tidak berguna memikirkannya dan lebih baik memikirkan perjalanan selanjutnya. Dan kedua karena sangat penting merelakan atau melepaskan itu semua. Berbagai keterikatan dengan semua itu adalah halangan besar bagi perjalanan yang terang di dalam kematian.


Sesungguhnya, semua pengalaman ini sudah pernah berjuta-juta kali dialami oleh semua orang pada waktu kematian-kematian sebelumnya. Tapi karena seseorang dalam kebodohan atau ketidaktahuan [avidya], dia tidak akan ingat. Sehingga mungkin dia akan menghabiskan waktu pada saat kematian dengan menangis, menangis dan menangis atau dengan perasaan kehilangan yang sangat besar.


Padahal itu hal yang harus sangat dihindari. Kematian adalah hukum alam, fenomena yang alamiah. Kematian menimpa semua makhluk. Setiap tubuh akan mati. Bagi seorang sadhaka, kematian adalah ”perjuangan spiritual” yang paripurna. Bagaimana selama hidupnya seorang sadhaka mempersiapkan, menyambut dan menjalani kematian, sehingga perjalanan atmanya bisa setidaknya naik tingkat ke alam-alam suci atau kalau bisa bahkan mengalami moksha.


SADHANA MEMASUKI ALAM SUCI SECARA MANDIRI

Ini adalah penjelasan tentang sadhana memasuki alam-alam suci. Ini adalah bekal pengetahuan dharma yang sangat penting. Ini harus kita baca baik-baik, hafalkan dan pahami metodenya semasa hidup. Sehingga setiap saat kematian bisa datang menjemput, kita sudah tahu jalan untuk memasuki alam-alam suci secara mandiri.


Dibawah ini adalah berbagai cara atau sadhana memasuki pintu-pintu alam suci secara mandiri, yaitu


1. Kekuatan japa mantra dalam ajaran Shiva

Kita sudah melihat bahwa diri kita sudah mati, tapi kita tidak tahu apa yang harus dilakukan atau mau pergi kemana. Dua kesempatan untuk mencapai moksha dan empat kesempatan untuk memasuki alam-alam suci melewati lorong cahaya alam antarabahava juga sudah terlewatkan. Jangan takut dan jangan khawatir karena kita masih punya kesempatan lagi, dengan catatan kita harus secepatnya melakukan upaya memasuki alam-alam suci, jangan banyak berpikir macam-macam, memikirkan ini itu yang tidak berguna dan jangan berleha-leha.


Segera kita lakukan dhyanawidhi atau membayangkan [memvisualkan] Satguru, atau memvisualkan wujud [simbolik] Ista Dewata pengayom dan pelindung pribadi kita, atau Ista Dewata yang paling sering kita puja. Lakukan ini dengan tenang. Visualkan satguru atau ista dewata itu hidup, tembus pandang dan berpendar cahaya.


2. Kekuatan mahasuci pranawa “OM”

Ini adalah metode seperti apa yang termuat dalam buku suci Mandukhya Upanishad atau dalam meditasi sekte Shiwa Siddhanta, yaitu pembebasan diraih melalui kekuatan pranawa suci “Om”. Ini terlepas dari berapa banyak karma baik atau karma buruk dalam hidup kita. Dalam meditasi sekte Shiwa Siddhanta digunakan cara meditasi yang canggih, yaitu melinggihkan atau menstanakan pranawa suci “Om” di 21 titik chakra di dalam diri kita. Tapi karena ajaran ini sifatnya rahasia, maka yang akan disampaikan disini adalah metode yang lebih umum, sebagai berikut ini. Kita lakukan dhyanawidhi atau membayangkan [memvisualkan] 10 pranawa suci “Om” di dalam diri kita.


3. Kekuatan samadhi

Hindu dharma secara garis besar terbagi menjadi tiga tradisi utama, yaitu tradisi Tantra [yang tertua], tradisi Brahmana dan tradisi Sramana [yang paling muda]. Beberapa jenis meditasi dari tradisi Tantra dan tradisi Sramana sangat berguna di alam kematian, terutama kalau kita berhasil mencapai samadhi. Tapi kalau dibahas semua di dalam buku ini kurang tepat. Karena belajar meditasi seperti ini harus dibawah bimbingan guru. Dan inipun juga harus terus menerus dilatih semasa kehidupan. Karena kalau kita terlatih semasa kehidupan maka di alam kematian akan mudah untuk melakukan pencapaian samadhi.


4. Kekuatan bhakti, permohonan dan kerelaan pelepasan diri

Kuncinya disini adalah permohonan yang sungguh-sungguh, rasa bhakti yang tulus dan kerelaan untuk melepas diri. Dalam banyak kejadian memohon bisa jadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Kita tidak tahu cara memohon, karena pikiran kita angkuh, atau karena harga diri kita tinggi, atau karena kita terbiasa mandiri dan tidak ingin mencari pertolongan, atau karena kita menuruti kemalasan, atau karena pikiran kita begitu disibukkan oleh berbagai keraguan, pertanyaan dan kebingungan.


SYARAT DASAR SADHANA MEMASUKI ALAM SUCI SECARA MANDIRI

Walaupun ada peluang-peluang ini, yaitu sadhana untuk memasuki alamalam suci secara mandiri, ini hanya bisa dilaksanakan bagi atma yang memiliki kontrol akan pikiran dan arah perjalanan dirinya. Walaupun mungkin tidak bisa sempurna, untuk dapat melaksanakan sadhana ini kita harus punya setidaknya suatu kadar kendali [kontrol] terhadap pikiran kita sendiri di alam kematian. Kalau tidak demikian, maka atma hanya akan terombang-ambing kesana kemari oleh arus karma dan samskara seperti layangan putus dihembus angin.


2. CARA KEDUA : ATMA DISEBERANGKAN OLEH ORANG YANG SIDDHI

Kemungkinan kedua untuk dapat meninggalkan alam Marcapada ini dengan cara-cara atau perjalanan yang baik adalah atma diseberangkan oleh orang yang siddhi. Hindu Bali yang dominan dengan jalan Tantra yaitu Shiwa Siddhanta, terdapat upakara penyeberangan atma [ngaben]. Dimana dalam upakara ini terkait erat dengan aspek Panca Dewata, sang yajamana [pemuput upakara] dan jenis upakara.


Disini peran keluarga, kerabat atau orang lainnya yang masih hidup sangat besar. Misalnya dengan cara melakukan upakara ngaben yang di-upakarai dengan baik dan berhasil serta pemuput upakara-nya siddhi, maka atma akan dapat memasuki alam-alam suci, menjadi Dewa Hyang. Tapi sebagai pribadi hendaknya kita tidak mengandalkan cara-cara ini. Prioritas utama kita adalah harus berusaha sendiri mencari jalan pembebasan atau jalan menuju alam-alam suci secara mandiri.


3. CARA KETIGA : ATMA DISAMBUT ATAU DIANGKAT OLEH KEKUATAN SUCI

Kemungkinan ketiga untuk dapat meninggalkan alam Marcapada ini dengan cara-cara atau perjalanan yang baik adalah atma disambut atau diangkat oleh kekuatan-kekuatan suci. Dalam keadaan atma bergentayangan di alam Marcapada dengan linga sarira [badan halus] atau menjadi ”hantu”, kemudian ada keluarga, kerabat, satguru atau orang yang pernah kita buat jasa kebajikan yang sangat besar, yang sudah terlebih dahulu memasuki alam-alam suci datang menolong dan menjemput kita.

Ini dapat terjadi kalau selama masa kehidupan :


1.Tubuh kita suci. Artinya tidak menyiksa atau menyakiti secara fisik, tidak melakukan kejahatan seksual seperti selingkuh, pelecehan seksual dan pemerkosaan, banyak berbuat baik melalui tubuh ini, banyak membahagiakan orang melalui tubuh ini, dsb-nya.

2. Kata-kata kita suci. Artinya tidak berkata kasar, tidak berbohong, tidak menipu, tidak menyudutkan orang, tidak mencaci, tidak menjelek-jelekkan, tidak menghina, dsb-nya.

3. Pikiran kita suci. Artinya tidak berpikiran negatif, tidak marah, tidak membenci, tidak sombong, dsb-nya.

4. Kekayaan kita suci. Artinya kekayaan kita tidak didapat dengan cara menipu, mencuri, memeras, memanipulasi, dsb-nya.


Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.


Sumber : Buku Samsara, Perjalanan Sang Atma, Karya I Nyoman Kurniawan (Bab 8)

Via : Pesonataksubali.blogspot.com/Hindualukta.blogspotcom

Fotoby : Rangkuman Google

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?