Arti Penting Dari Kepemimpinan Dan Realita Seorang Pemimpin Menurut Hindu
Seorang yang memiliki kemampuan untuk menyatukan berbagai pandangan yang berbeda disebut pemimpin. Seorang pemimpin perlu memiliki seni untuk memimpin orang orang, seni tersebut sering disebut dengan istilah kepemimpinan. Banyak orang bisa menjadi pimpinan, tetapi tidak banyak di anatara yang bersangkutan bisa menjadi pemimpin karena yang bersangkutan harus memahami dan mengerti tentang kepemimpinan.
Dalam agama Hindu, banyak ditemukan istilah yang menunjuk pada pengertian pemimpin. Bila bakat kepemimpinannya yang menonjol dan mampu memimpin sebuah organisasi dengan baik disebut Ksatriya, karena kata ksatriya artinya yang memberi perlindungan. Demikian pula yang memiliki kecerdasan yang tinggi, senang terjun di bidang spiritual, ia adalah seorang Brahmana. Demikian pula profesi-profesi masyarakat seperti pedagang, bussinessman, petani, nelayan dan sebagainya.
Dalam sejarah Hindu banyak contoh pemimpin yang perlu dijadikan suri teladan. Di setiap jaman dalam sejarah Hindu selalu muncul tokoh yang menjadi pemimpin. Sebut saja Erlangga, Sanjaya, Ratu Sima, Sri Aji Jayabhaya, Jayakatwang, Kertanegara, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan masih banyak lagi lainnya. Di era sekarang banyak tokoh Hindu yang juga dapat dijadikan sebagai panutan/pimpinan seperti : Mahatma Gandhi, Svami Vivekananda, Ramakrsna, Sri Satya Sai dan sebagainya.
Selain itu contoh kepemimpinan Hindu yang ideal dapat ditemukan dalam cerita Itihasa dan Purana. Banyak tokoh dalam cerita tersebut yang diidealkan menjadi pemimpin Hindu. Misalnya: Dasaratha, Sri Rama, Wibhisana, Arjuna Sasrabahu, Pandudewanata, Yudisthira dan lain-lain.
Di samping itu dalam Hindu dikenal juga sebuah konsep yang disebut Astabrata. Astabrata sebagai delapan sifat mulia para dewa dalam pandangan Hindu dianggap sebagai komponen yang memadai untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kedelapan komponen kepemimpinan menurut astabrata sebagaimana dijelaskan dalam Kakawin Ramayana dan kitab Manaiua Dharniasastra adalah sebagai berikut:
1. Indra Brata, yakni Hyang Indra dianggap mengadakan hujan di dunia caranya dengan memberi atau menurunkan hujan kepada bumi sama rata, tidak boleh pilih kasih. Artinya, seorang pemimpin harus mampu memberi kesenangan, mengayomi, dan memberi kesejahteraan pada bawahan atau orang-orang yang dipimpin.
2. Yama Brata, yakni Bhatara Yama dianggap menjadi dewanya atma neraka, mengatur, dan menghukum orang yang berbuat curang dan memuji orang suci, jujur, dan setia. Artinya, seorang pemimpin harus mampu berlaku adil dan tegas, menghukum atau memberi sanksi kepada yang salah dan memberi penghargaan pada yang berprestasi.
3. Surya Brata, yakni tugas berat surya adalah tiap-tiap hari memanasi atau menerangi seluruh alam karena panasnya seluruh isi dan penghuni alam ini dapat bergerak atau tumbuh dengan baik. Oleh karena terangnya mereka dapat berjalan dengan cepat tidak meraba-raba dalam kegelapan. Artinya, seorang pemimpin harus mampu memberikan penerangan dan kekuatan pada orang-orang yang dipimpin.
4. Chandra Brata, yakni tercermin dalam sifat-sifat bulan, tatkala bulan penuh (purnama) semua penghuni dunia senang olehnya. Kias rakyat bahwa alam semesta ramah-tamah dan menunjukkan muka yang tenang kepada rakyat atau pengikutnya, baik dalam keadaan senang maupun kesu-sahan. Artinya, seorang pemimpin harus dapat memberi kesejukan dan kenyamanan pada bawahan-nya.
5. Bayu Brata, yakni sifat bayu (angin) ini tersebar keseluruh pelosok penjuru dunia sampai kepada badan seluruh makhluk untuk memberi kesejateraan hidupnya dengan tak dapat dilihat orang. Artinya, seorang pemimpin harus memahami hal ikhwyal orang-orang yang dipimpin.
6. Kuwera Brata (Dana Brata), yakni Bhatara Kuwara dianggap dewa kekayaan. Pemimpin harus mengikhtiarkan kekayaan harta benda untuk kemegahan dan kemakmurannya dan seorang pemimpin harus berpenampilan simpatik dan rapi, baik dala penampilan maupun dalam bertutur kata.
7. Barurna (Waruna Brata), yakni Bhatara Baruna dianggap dewa yang bersenjatakan Naga Panca yang bertugas membasmi sekalian durjana dan musuh. Artinya, pemimpin harus memiliki penge¬tahuan atau wawasan yang luas sehingga mampu mengendalikan" bawahannya dengan kearifan dan kebijaksanaan.
8. Agni Brata, yakni konsep kepemimpinan ini ditirukan sifatnya agni (api) yang selalu menyala dan berkobar. Artinya, seorang pemimpin hendaknya mampu memotivasi dan membangkitkan semangat bawahan.
9. Begitu pula dalam Kakawin Ramayana yang termuat dalam Sloka 84, dan bagian terakhir dari ajaran Asta Brata, yaitu sebagai berikut:
"Nahan de sang natha kemita, iringkang bhumi subhaga,
Pararthasih yagong sakalara, nikang rat wi nulatan,
Tuminghal yatna asing sawuwusikanang sasana tinut,
Tepet masih tar weruh kutima, mitaging bancana dumeh"
Artinya :
Demikian kewajiban seorang raja untuk melindungi dunia demi untuk kemakmuran dan kebahagiaan rakyat. Seorang raja harus selalu mengutamakan kepentingan-kepentingan rakyatnya dan segala penderitaan rakyat harus dipikirkan. Segala ajaran-ajaran didalam kitab-kitab suci harus diikuti dengan seksama. Dengan demikian, rakyat akan tetap mencintai raja dengan teguh, tidak mengenal kecurangan serta menjauhi penipuan, itulah akibatnya.
Adapun Tri Upaya Sandhi “lontar Raja Pati Gundala” = 3 upaya menghubungkan dirinya dg masyarakat yg dipimpinnya.
1. Rupa: mengamat-amati wajah dr masyrakat. Wajah = penggambaran bathin
2. Wangsa: suku bangsa. Mengetahui susunan masyarakat (statafikasi sosial) yg dipimpin.
3. Guna: mengetahui tingkat pengertian/pengetahuan serta keterampilan (akal) masyarakat.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : Pesonataksubali.blogspot.com/ganeshasite.wordpress.com/phdi.or.id/rah-toem.blogspot.com
Foto by : artikelbaliku.blogspot.com

Comments
Post a Comment