Apakah Karma Atau Dosa Itu Bisa Dihapuskan Atau Dilenyapkan ? Simak Jawabannya
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Karma Dan Dosa" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
Agama Hindu tidak mengenal istilah penghapusan dosa. Tidak ada satu ritualpun yang dapat menghapuskan dosa seseorang. Meskipun seorang telah berhasil melakukan upawasa dan jagra pada malam Siwaratri bahkan mono brata sekalipun atau melakukan upacara pengabenan/memukur (di Bali) tidak akan menghapuskan dosa dan karma buruk seseorang sehingga berhak mendapat tiket masuk sorga. Dosa atau karma buruk seseorang akan tetap ada, namun jika diimbangi dengan amal, bhakti yang tulus, sembah sujud dan melakukan berbagai karma baik, maka dosa dan karma buruk itu tidak terlihat lagi.
Untuk memudahkan pemahaman ini, ambillah gelas yang berisi air putih bersih (air yang putih bersih itu diibaratkan sebagai karma baik), kemudian perciki setetes tinta, (anggap saja tinta itu dosa dan karma buruk). Nah air terlihat keruh. Bagaimana agar kekeruhan dosa itu tidak Nampak lagi ? Hindu menawarkan bahwa untuk membuat air yang keruh oleh tinta/karma buruk tidak tampak keruh lagi adalah dengan jalan menuangkan air kebajikan sebanyak-banyaknya, air dari karma-karma baik”. Inilah konsep peleburan dosa yang ditawarkan Hindu.
Bagaimana mungkin menuangkan air lagi kalau gelas itu sudah penuh ?
Mari kita lapangkan pikiran, luaskan cakrawala pemahaman, buka pintu hati selebar-lebarnya, longgarkan seluruh mata batin. Artinya, gantilah gelas itu dengan belanga yang besar, dan bayangkan seluas itulah keiklasan kita dalam berbhakti kepada Hyang Widhi dan beramal kepada kemanusiaan.
Hambatan, rintangan, kerumitan, serta kegagalan dalam segala bidang dan aspek kehidupan kita [duniawi, materi, spiritual, dsb-nya] semata disebabkan oleh akumulasi karma kita sendiri. Ini disebut karma avarana [penghalang karma]. Sehingga, terutama bagi mereka yang punya keinginan untuk dapat mengalami kemajuan dan perubahan berarti, penghalang yang pertama kali harus diselesaikan adalah penghalang karma. Jalan keluarnya adalah dengan melakukan kedua hal ini, yang disebut : samvara [penghentian karma] dan nirjara [penghapusan karma].
Menurut Ramanujacharya, dosa timbul dari tindak pendurhakaan kepada Tuhan.
Tuhan telah memberikan kebebasan berkehendak kepada umat manusia, dan sastra-sastra Veda telah memberikan tuntunan agar kita bisa hidup di jalan Dharma. Sarasamuscaya 18 menyatakan Dharma dapat melebur dosa jagat tiga ini. 'dharma mantasakenikang triloka‘. Sebelumnya, sloka 17 menyebutkan, prilaku matahari sedang terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikian pulalah orang yang melakukan Dharma. Dharma akan memusnahkan segala macam dosa. Sebaliknya, mereka yang melanggar Dharma akan terjerat dengan siklus kelahiran dan kematian (punarbhava) yang tidak jelas kapan berakhirnya. Semasih hukum Karma Dan Punarbhawa mengikat kitd, Maka selama ITU Kebebasan (moksha) Tidak akan tercapai.
Ilustrasi Punarbhawa
Permohonan ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan dalam Sruti. Melalui pemujaan kepada Varuna. Tuhan beri peluang agar manusia bertobat. Disebutkan, “Bila melalui kehendak pikiran, kami melanggar hukum-Mu, sudilah kamu tidak menghukum kami” (Rgveda VII.89.5). Mengingat mantram itu ada dalam Sruti, maka bisa dijadikan jaminan Tuhan Veda pun memberikan kesempatan kepada umat manusia untuk melakukan pertobatan.
Pertobatan, Yang Hindu disebut prayascita, DAPAT dilakukan DENGAN Upacara samskara (penyucian Dari Luar) tetapi Yang LEBIH Penting adalan penyucian Dari Diri, lewat tapa, brata, yoga, Dan samadhi.
Samadhi
Manawa Dharmasastra II.102 memberikan petunjuk, yaitu dosa terhapus dengan melakukan sandhya mengucapkan mantra Savitri. Mantra Savitri lebih dikenal sebagai Gayatri Mantram, karena memakai chanda Gayatri. Mantram tersebut memang ada dalam Rgveda III. 62.10, dan Yajurveda 11.35 dan XXX.2. Itu berarti, mantra bait pertama Puja Trisandhya itu sebenarnya sangat utama karena bisa hapuskan dosa orang yang merafalkannya dengan penuh ketulusan hati, apalagi dilakukan dengan berjapa. Lewat upacara samskara, khususnya yang berhubungan dengan manusa samskara, kita sering menggunakan banten beakala (bayakaon), pengelukatan, prayascita, sampai sesayut guru piduka.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : pesonataksubali.blogspot.com/quora.com/pangdetulus.blogspot.com
Foto : mantrahindubali.com

Comments
Post a Comment