"Uang Memang Bukan Segalanya Tapi Segalanya Perlu Uang"

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Management Keuangan Menurut Hindu" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.

Hubungan manusia dengan uang bagaikan hubungan antara air dan perahu. Tanpa ada air perahu tak bisa berlayar. Tapi perahu berlayar bukan mencari air, tapi mencapai pantai tujuan. Kalau perahu salah caranya berlayar, justru air itulah yang menenggelamkan perahu. Penumpang dan barang yang ada dalam perahu pun ikut tenggelam dan rusak karena air.

Demikianlah hubungan manusia dengan uang. Tanpa uang manusia tidak dapat banyak berbuat dalam menjalankan hidupnya untuk mewujudkan kebahagiaan. Namun demikian, kalau salah caranya manusia memaknai uang maka uang itulah yang menyebabkan manusia sengsara. Karena itu manusia dalam mengarungi samudera kehidupan harus memahami dengan baik berbagai aspek tentang uang.

Tujuan hidup manusia menurut sudut pandang agama Hindu adalah untuk mewujudkan Catur Purūṣa Artha, yakni: Dharma (kebajikan), Artha (harta benda/ material), Kāma (kenikmatan hidup) dan Moksa (kebebasan dan kebahagiaan abadi). Dharma merupakan landasan bagi tercapainya Artha, Kāma dan Moksa, oleh karena itu seseorang tidak boleh berbuat melanggar atau bertentangan dengan Dharma.

Mahaṛṣi Cānakya dalam kitabnya Nītisāstra (III.20) menyatakan, seseorang yang tidak mampu mewujudkan satu dari 4 tujuan hidup tersebut, sesungguhnya kelahirannya ke dunia ini hanyalah untuk menunggu kematian. Untuk mewujudkan kemakmuran bersama, pemerintah menurut ajaran Hindu hendaknya dapat mengatur perekonomian rakyat dengan baik. Perekonomian disebut dengan istilah Vārttā, yang menurut Kauþilya dalam bukunya Arthasāstra (I.7) meliputi pengelolaan kekayaan negara. 

Perekonomian hendaknya pula didukung oleh keberhasilan pengembangan : Ānviksikī (ideologi), Veda Trayī (Ṛgveda, Yajurveda dan Sāmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Danîanīti (Hukum), sedang lingkup Vārttā meliputi 4 bidang (Vārttā Caturvidhā), yaitu : pertanian, peternakan, perdagangan dan membungakan uang seperti disebutkan dalam Bhāgavata Purāṇa X.24.21 (krsi-vānijya-goraksā kusīdam tūrīyamucyate, vārttācaturvidhā tattra vayam govṛttayo’nisam).

Dalam kekawin Nitisastra IV.7 ada dinyatakan sebagai berikut: "Singgih yan tekaningyuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana. Tan waktan guna sura pandita widagdha pada mengayap ring dhaneswara". Artinya: kalau zaman kali sudah datang tidak ada yang lebih bernilai daripada uang. Sudah susah dikatakan para ilmuwan, pemberani, orang suci maupun orang yang kuat semuanya pelayan orang kaya.

Memang merupakan suatu fakta sosial pada zaman kali ini secara umum uanglah yang memiliki pengaruh yang sangat besar pada kehidupan umat manusia, sampai ada anekdot yang menyatakan uanglah yang mahakuasa. Tetapi dalam kali santarana Upanisad ada diceritakan bahwa Resi Narada bertanya pada Dewa Brahma: Sejak Pari Kesit dinobatkan sebagai Raja Astina dunia mulai memasuki zaman kali. Bagaimana menyelamatkan umat manusia dari kuatnya pengaruh uang pada kehidupan manusia. Karena dalam Sastra Agama dinyatakan uanglah yang paling dianggap bernilai pada zaman kali.

Hal ini dijelaskan oleh Dewa Brahma bahwa justru untuk meningkatkan zaman kali menuju kerta uanglah sebagai salah satu sarananya. Tanpa uang zaman kali tidak mungkin meningkatkan menuju zaman kerta. Uang akan menjadi sarana utama pada zaman kali menuju zaman Kerta apabila itu dieksistensikan dengan kuatnya kepercayaan dan pemujaan pada Tuhan. Demikianlah inti sari sabda Dewa Brahma kepada Resi Narada.


Lebih jauh tentang keuangan untuk mendukung hidup dan kehidupan, mahaṛṣi (Bhagavān) Vararuci yang disebut juga dengan nama Katyāyana, dalam Sarasamuccaya (261-276) secara panjang lebar menjelaskan cara-cara memperoleh harta benda yang tidak boleh bertentangan dengan Dharma (kebenaran dan kebajikan). Harta benda atau penghasilan yang diperoleh melalui kerja atas dasar Dharma, hendaknya dibagi tiga, yakni masing-masing sepertiga, digunakan untuk: Dharma, mengembangkan harta dan untuk dinikmati. Untuk jelasnya kami kutipkan śloka Sarasamuccaya, sebagai berikut:

“ekanāmcena dharmāthaḥ kartavyo bhūtimicchatta,

ekanāmcena kāmtha ekamamcam vivirddhayet”.

“Nihan kramaning pinatêlu, ikang sabhāga, sādhana rikasiddhaning dharma, ikang kapingrwaning bhāga sādhana ri kasiddhaning Kāma ika, ikang kaping tiga, sādhana ri kasiddhaning artha ika, wṛddhyakêna

muwah, mangkana kramanyan pinatiga,denika sang mahyun manggiha kênang hayu”. Sarsamuccaya 262

(Demikian hendaknya dibagi tiga (hasil usaha itu), yang satu bagian, digunakan sebagai biaya mewujudkan Dharma, bagian yang kedua digunakan sebagai biaya untuk memenuhi Kāma (untuk kenikmatan hidup) dan bagian yang ketiga digunakan untuk mengembangkan hartamelalui berbagai usaha,kegiatan ekonomi, agar berkembang lagi. Demikianlah hendaknya harta penghasilan itu dibagi tiga, oleh mereka yang menginginkan kebahagiaan).

Karena begitu berkuasanya uang di zaman Kaliyuga, orang Bali senantiasa diingatkan untuk bisa mengendalikan dirinya dalam memandang, memaknai, memperlakukan serta mencari uang. Saat Buda Cemeng Kelawu, orang Bali disadarkan betapa uang bukanlah segalanya, uang bukanlah dewa. Yang berkuasa atas segala dunia ini adalah Yang Maha Agung, Yang Mahasumber, Yang Maha Pencipta.

Pada Hari Buda Wage Klawu atau Buda Cemeng Orang Bali juga diingatkan untuk mengelola uangnya secara arif dan proporsional. Dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, harta kekayaan, termasuk uang yang didapat hendaknya dibagi tiga. Sepertiga buat memenuhi keperluan hidup (kama), sepertiga buat diinvestasikan atau diputar lagi (arta) sehingga menjadi terus bertambah. Sisanya sepertiga lagi mestilah didermakan, di-yadnya-kan (dharma). Dharma ini mesti diterjemahkan dalam arti yang lebih luas. Tidak hanya untuk kepentingan upacara agama, juga untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu, membiayai pendidikan anak-anak miskin.

Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.

Via : Pesonataksubali.blogspot.com/Dharmadana.id/phdi.or.id/metrobali-com-cdn

Foto by : Google.com

#pesona_taksubali

Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?