"Tradisi Mesbes Bangke atau Mencabik Mayat Di Banjar Buruan" Ada Yang Pernah Mencoba Atau Melihat ?
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Tradisi Mesbes Bangke" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
Ada sebuah tradisi unik di Banjar Buruan, Tampaksiring, Gianyar, Bali, yang bernama ‘Mesbes Bangke’ atau Mencabik Mayat. Setiap ada warga yang meninggal dan diaben secara personal, saat itulah jenazah akan melalui ritual ini.
Warga asli Banjar Buruan akan berkumpul dijalan untuk menanti datangnya jenazah yang diusung dari rumah duka. Begitu jenazah terlihat, maka akan diserbu oleh warga untuk dibesbes (dicabik). Sebagian warga ada yang secara sadar dan sebagian lagi ada yang setengah sadar. Bahkan, ada yang sampai menaiki jenazah. Tangan dan mulut mereka akan sibuk mencabik-cabik tubuh yang tidak bernyawa tersebut.
Lalu pertanyaanya, kenapa tradisi yang juga merupakan proses ritual orang meninggal tersebut sampai dilangsungkan, walaupun itu sebuah peninggalan leluhur, tetapi itu sebuah tradisi ekstrim yang mungkin tidak semua warga bisa melakukannya. Seperti diketahui untuk melakukan upacara tentu harus mencari hari baik atau duwase (tanggal) yang cocok untuk melakukan ritual dan terkadang mayat (jasad) orang meninggal harus beberapa hari berada di dalam rumah, dan konon, dahulu penduduk asli banjar Buruan ini kebingungan untuk menghilangkan bau busuk yang dikeluarkan oleh mayat, karena zaman dulu tidak ada formalin, mereka harus mencari cara agar mayat tidak berbau bau busuk yang dikeluarkan mayat tersebut.
Saat ini sekarang jaman sudah semakin maju dan berkembang, banyak cara dilakukan untuk membuat mayat tersebut tidak berbau termasuk juga penggunaan obat formalin, tetapi tradisi sudah diwariskan, warga atau masyarakat Buruan, Tampak Siring, Gianyar ini masih tetap melakukan tradisi tersebut. Untuk mayat yang akan dikremasi, saat keluar dari rumah duka akan diserbu oleh penduduk yang akan mesbes atau mencabik-cabik mayat tersebut. Konon untuk mencabik mayat tersebut harus dilakukan oleh penduduk yang memang asli dari banjar Buruan, jika dilakukan oleh penduduk pendatang akan berakibat fatal bagi mereka yang melakukannya. Apalagi jika diketahui orang yang bukan penduduk asli banjar Buruan ini ikut mencabik mayat dengan segeranya akan di hajar massa.
Tidak ada yang tahu, kapan pastinya tradisi ini dimulai dan siapa yang memulainya. Yang jelas menurut tetua adat setempat, berkaca dari zaman yang lalu, saat seorang warga meninggal, bau busuk jenazahnya tidak bisa diredam karena harus menentukan hari baik untuk diaben, terlebih saat itu belum ditemukan formalin. Maka, jenazah bisa didiamkan berhari-hari. Warga yang mencium bau busuk tersebut mempunyai inisiatif untuk mesbes jenazah agar lupa dengan bau yang tidak sedap itu. Beramai-ramai mereka mengarak dan memain-mainkan jenazah dengan riang sambil mesbes, konon aroma busuk itu akan sirna.
Setelah warga puas mesbes, barulah jenazah dibawa ke kuburan dan dikremasi. Dari 13 banjar dinas yang ada di Desa Tampaksiring, hanya Banjar Dinas Buruan-lah yang masih setia menjalankan tradisi ini. Jika yang meninggal adalah pemuka agama seperti Pedanda, Sulinggih, dan Pemangku, maka keluarga akan menyusun rencana agar jenazah tidak sampai dibesbes ketika keluar dari rumah. Hal itu diwujudkan dengan melakukan ritual ‘mekinsan di geni’ atau dititipkan (dikuburkan) dahulu di pemakaman. Maka, saat ngaben, kuburan dibongkar kembali dan jenazah dikremasi.
Tradisi mesbes bangke Bali tak dilakukan sepanjang waktu sebelum ada upacara ngaben. Kebiasaan ini hanya dilangsungkan pada mayat yang menjalani upacara ngaben personal. Perlu Anda ketahui, ada pula pelaksanaan upacara ngaben yang dilakukan secara massal atau kolektif. Jadi, Anda tidak akan bisa selalu menyaksikan tradisi ini sebelum upacara ngaben dilakukan.
Ada pula kehati-hatian yang harus diperhatikan saat melaksanakan kebiasaan mencabik mayat di Bali. Apalagi, ketika mayat semasa hidup mengidap penyakit berbahaya yang bisa menular. Pada kondisi seperti ini, pihak keluarga biasanya melakukan antisipasi dengan membungkus mayat secara kuat dan berlapis. Bahkan, tak jarang mereka menggunakan rantai untuk mengikat mayat.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : Nusabali.com/balitoursclub.net/pesonataksubali.blogspot.com/kintamani.id
Foto by : Parikramadewata.com

Comments
Post a Comment