Menurut Pedanda Anjing Yang Dibunuh Harus Diupacarai, Lalu Bagaimana Dengan Orang Yang Membunuh Anjing Untuk Mengkonsumsi Dagingnya ?
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Anjing yang dibunuh haruskah diupacarai ?" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
mereka yang membunuh Hewan adalah sebuah dosa jika kita pandang dari ajaran Ahimsa (tidak membunuh), namun dilain pihak kita dapat melihat bagaimana sebuah keluarga yang meninggal karena gigitan anjing rabies. Seberapa pilu penderitaan mereka karena anggota keluarganya meninggalkan mereka karena sebuah gigitan anjing. Kita tak bisa menyalahkan mereka yang menjadi korban dan membenci akan keberadaan anjing.
Fanatisme berlebih akan kecintaan terhadap anjing menjadi cikal bakal kebencian program eliminasi. Ya, mereka memang cinta terhadap satwa, itu adalah salah satu proyeksi ajaran palemahan, saling cinta terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan. Namun ketika kecintaan itu menjadi berlebihan sehingga menimbulkan suatu kebencian, bukanlah sebuah cinta lagi. Melainkan adalah sifat fanatisme.
Seorang pedanda atau pemimpin ritual agama Hindu di Bali mengingatkan bahwa anjing-anjing liar yang kini dibunuh karena dikhawatirkan menyebarkan penyakit rabies, harus diupacarai untuk pembersihan roh makhluk yang jasadnya sudah mati.
"Anjing-anjing itu harus diupacarai ’darma pangulih’ agar rohnya tidak menjelma menjadi hewan, seperti anjing lagi," kata Ida Pedanda Gede Telaga dari Geria Gede Telaga Sanur kepada Antara di Denpasar.
Dalam beberapa bulan ini, puluhan ribu anjing liar di Bali dibunuh atau lebih dikenal dengan sebutan eliminasi untuk mengantisipasi penyakit rabies. Selain itu, sejumlah penduduk yang digigit anjing juga dinyatakan positif rabies dan beberapa di antaranya meninggal dunia.
Gede Telaga yang saat itu didampingi tokoh Puri Gerenceng-Pemecutan Anak Agung Ngurah Agung mengemukakan bahwa dalam agama Hindu, semua makhluk harus diupacarai. Berkaitan dengan binatang, ada upacara khusus untuk hewan berkaki satu (ubur-ubur), berkaki dua dan berkaki empat.
Meskipun tidak diupacarai satu per satu terhadap anjing yang dibunuh, namun, upacara secara umum harus dilakukan. Beberapa waktu lalu, pejabat dari Pemprov Bali sudah melakukan konsultasi terhadap pemimpin ritual agama mengenai hal ini. "Jadi tujuan dari upacara itu adalah meruwat atau menetralisir roh jahat," katanya.
Menurut dia, keberadaan anjing di Bali tidak bisa dilepaskan dari sisi ritual juga. Bahkan ada upacara di Bali yang menggunakan sesajen atau banten anjing berkulit coklat dengan moncong hitam. Anjing jenis ini saat sekarang sudah mulai langka. "Selain itu dalam Mahabarata disebutkan bahwa salah satu anak Pandawa, yakni Yudistira kembali ke surga dengan diantar oleh anjing. Jadi begitulah hubungan masyarakat Bali dengan anjing," katanya.
Daging diperkenankan dimakan jika telah diperciki air suci oleh Brahmana yang kualifide, dan hal ini hanya diijinkan dan berlangsung pada saat diselenggarakannya upacara kurban untuk para dewa atau leluhur. Aturan ini disusun oleh Vaivasvata Manu yaitu untuk keperluan upacara kurban suci Dewa Yajna dan Pitra Yajna. Di sini tidak disebutkan secara tegas yajna yang bagaimana ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian dalam kitab yang sama dalam ayat selanjutnya ditegaskan sebagai berikut :
Nakritwa praninam himsam
mamsamtpadyate kawacit,
na ca prabiwadhah swargyas
tasman mamsam wiwarjayet
“Daging tidak akan bisa didapat tanpa menyakiti mahkluk hidup, dan penganiayaan terhadap makhluk hidup adalah suatu pantangan dalam mencapai kebahagiaan suci, oleh karena itu hendaknya seseorang menghindari memakan daging”
Samutpattim ca mamsasya
wadhabandhau ca
dehanamprasamiksya
niwarteta sarwa mamsya bhaksanst
“Setelah mempertimbangkan masak-masak soal asal-usul yang menjijikan dari daging dan kekejaman dalam menyiksa dan membunuh makhluk hidup, hendaknya tinggalkanlah sama sekali kebiasaan makan daging”
Jika semua sloka di atas dibaca secara utuh dan proporsional, maka bagi mereka yang berpandangan ke depan, landasan pembunuhan binatang tidaklah cukup kuat dan meyakinkan meskipun untuk tujuan yajna sekalipun. Mamsah yang berarti daging, pada hakekatnya dinyatakan oleh orang-orang bijaksana sebagai saya-dia, yaitu dia yang dalam hidup ini dagingnya saya telan, akan membalas untuk menelan saya dikemudian hari (Manu Smrti 5.55). Memakan daging secara tidak langsung terlibat di dalam rangkaian pembunuhan makhluk hidup. Penyembelihan binatang melibatkan banyak orang dalam rantai terencana menghasilkan reaksi karma yang tidak pernah direncanakan dan dibayangkan sebelumnya.
Jadi buat semeton Pesona Taksu Bali, jangan lupa merawat dan memelihara hewan (anjing) dengan tulus ya, karena berawal dari hal kecil tersebut bisa mendatangkan berkah bagi kita semua.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : internasional.kompas.com/pesonataksubali.blogspot.com/Hindu-dharma.org
Foto by : baliexpress.com

Comments
Post a Comment