"Mamunjung" Tradisi Makan Bersama di Kuburan Saat Pagerwesi
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Tradisi Mamunjung" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
Perayaan Hari Raya Pagerwesi di Singaraja tak hanya terasa berbeda karena perayaannya yang lebih meriah dibandingkan di daerah lain di Bali. Di Hari Pagerwesi yang jatuh pada Rabu, masyarakat Singaraja di beberapa desa juga melaksanakan tradisi mamunjung, yaitu tradisi untuk melakukan persembahyangan bagi leluhur atau kerabat yang sudah meninggal di setra atau kuburan. Fenomena ini dapat ditemui di beberapa setra di seputar Singaraja, seperti Setra di Banjar Adat Peguyangan, Singaraja.
Kata mamunjung ini berasal dari jenis banten yang digunakan, yaitu banten punjung, yang merupakan salah satu jenis banten yang digunakan sebagai persembahan kepada leluhur. Jenis banten ini pun, secara khusus ditujukan sebagai persembahan kepada kerabat yang telah meninggal namun belum dituntaskan melalui ngaben. Untuk leluhur yang telah diaben, digunakan banten penek, sehingga nama upacaranya pun menjadi mamenek.
Klian Adat Desa Pakraman Buleleng, Nyoman Sutrisna menerangkan, tradisi memunjung di Buleleng diperingati bertepatan dengan hari besar keagamaan Hindu. Tradisi Memunjung turun temurun sejak zaman Mpu Kuturan. Maknanya sebagai bentuk rasa syukur, atas hasil bumi dan dipersembahkan kepada orangtua atau kerabat yang meninggal mekiisan di kuburan atau setra.
Di Kecamatan Buleleng terdiri atas 14 banjar adat dan 10 kelurahan, seluruh masyarakat melakukan kegiatan pitra yadnya, dan dipusatkan di kuburan Buleleng. "Bersama keluarga sesaji banten memunjung di persembahan kepada keluarga atau kerabat yang ada di setra. Setelah selesai sembahyang, sesaji lalu dinikmati makanannya bersama keluarga," terang Sutrisna
“Sebenarnya antara punjung, penek, dan ajengan ini hampir sama. Sekarang peruntukkannya yang berbeda, kalau untuk punjung itu adalah untuk leluhur kita yang meninggal tapi belum diberikan upacara, kalau penek itu untuk leluhur kita yang meninggal dan sudah diaben, dan sampun malinggih. Kalau canang ajengan, ya untuk Ida Betara,” ungkap Nyoman Suardika, Dosen Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang juga melaksanakan tradisi ini.
Tak hanya menghaturkan banten punjung, dalam tradisi ini, pihak keluarga yang berziarah juga melakukan 'makan bersama keluarga' di sekeliling pusara keluarga tersebut setelah menghaturkan banten. “Dalam hal ini, yang mengikuti perayaan hari itu tidak hanya keluarga sekala, jadi masih ada keterkaitan dengan leluhur yang sudah meninggal,” lanjut dosen sekaligus pemilik sanggar seni Nong Nong Kling ini.
Yang menarik, punjung biasanya berisi nasi lengkap dengan lauk-pauknya, kue dan buah-buahan, dalam jumlah yang sengaja dibikin banyak. Karena surudan punjung, atau punjung yang sudah dihaturkan, akan dimakan bersama keluarga di kuburan.
Maka jangan heran, pagi-pagi di Hari Pagerwesi, setra di Desa Adat Buleleng atau di setra di Banyuasri, akan tampak ramai dengan kelompok-kelompok keluarga yang makan bersama sambil bercengkerama, selayaknya orang yang bertamasya di kuburan.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : pesonataksubali.blogspot.com/Nusabali.com/m.merdeka.com/tatkala-co-cdn.ampproject
Foto by : Google



Comments
Post a Comment