Benarkah Bahasa Bali Terancam Punah atau Dilupakan ? Simak Alasannya
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Akankah Bahasa Bali Punah ?" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
Bahasa Bali adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia yang dipelihara dengan baik oleh masyarakat etnis Bali. Bahasa Bali sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama bagi sebagian besar masyarakat Bali, dipakai secara luas sebagai alat komunikasi dalam berbagai aktivitas di dalam rumah tangga dan di luar rumah tangga yang mencakupi berbagai aktivitas kehidupan sosial masyarakat Bali.
Budayawan dari Universitas Udayana, Ida Bagus Gede Agastia menilai aksara, sastra, dan bahasa Bali merupakan masa depan budaya masyarakat lokal Pulau Dewata. Karena itu, bahasa Bali perlu dibina dan diberdayakan untuk merevitalisasi jatidiri dan penguatan integritas bangsa.
"Aksara, sastra, dan bahasa Bali menjadi sumber imajinasi, kreativitas, dan daya cipta dan merupakan tenaga dalam kebudayaan Bali," katanya dalam penyampaian makalah Seminar Nasional mengenai Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali Pengembangan Peradaban dan Jatidiri Orang Bali yang digelar di Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Menurutnya, masa depan kebudayaan Pulau Dewata tergantung dari kesadaran dan tanggung jawab semua elemen masyarakat mulai dari cendekiawan, mahasiswa, seniman, hingga para pemimpin. Ia menilai bahasa Bali merupakan salah satu bahasa di dunia yang kaya dan tidak dimiliki oleh negara lain karena memiliki tiga tingkatan sor singgih bahasa mulai dari bahasa yang kasar, sedang, dan halus.
Namun, ia mencemaskan keberadaan bahasa lokal, karena saat ini pemerhati bahasa Bali mulai berkurang. "Pemerintah daerah diharapkan untuk memikirkan hal itu agar anak muda tertarik mendalami bahasa Bali, kalau ingin bahasa lokal tetap berkembang," katanya kepada ratusan peserta seminar.
Realitanya, generasi muda Bali kini memang sudah sangat ‘’berjarak’’ dengan bahasa ibunya. Mereka tidak lagi jadi penutur aktif dan cenderung lebih memilih menggunakan bahasa di luar bahasa Bali dalam pergaulan kesehariannya. Jika sebuah bahasa mulai ditinggalkan para penuturnya, itu sama artinya bahasa itu tengah bergerak menuju gerbang kematian.
‘Sebelum bahasa Bali benar-benar tinggal nama, segenap komponen masyarakat Bali wajib melakukan aksi nyata untuk melestarikannya. Sekecil dan sesederhana apa pun wujud aksi itu, tentu saja jauh lebih baik ketimbang tidak melakukan aksi sama sekali.
Pada era otonomi daerah, pemerintah sesungguhnya bebas memberdayakan bahasa daerah. Di antaranya melalui kewajiban dengan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di dalam kelas, dalam forum resmi dan ilmiah, menyediakan buku bacaan, mendukung penelitian kebahasaan. Serta penyediaan penghargaan bagi orang yang berjasa dalam bidang bahasa, sastra, pendidikan, dan kesenian daerah.
Maka dari itu perlunya kepedulian serta kesadaran masyarakat khususnya generasi muda bali untuk tetap melestarikan budaya Bali yang sangat berharga ini. Jika bahasa bali punah maka ketertarikan wisatawan untuk mengunjungi bali akan berkurang karena bahasa bali merupakan harta berharga yang dimiliki Bali kita tercinta ini.
YENING NENTEN IRAGA PINAKA YOWANA BALI SIRA MALIH ?!
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.
Via : Pesonataksubali.blogspot.com/Republika.co.id/pendidikan.denpasar.go.id
Foto by : Metrobali.com

Comments
Post a Comment