Yen Sing Kasar, Sing Buleleng ? Yuk Kepoin Selengkapnya
Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Yen Sing Kasar, Sing Buleleng ?" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.
Salah satu karakter yang dikenal sebagai orang Buleleng adalah karakter egaliter yaitu semua orang dipandang sama/setara tidak ada kelas atau kasta, hal ini terlihat dalam penggunaan Bahasa yang cenderung kasar (kadang bercampur Bahasa Indonesia) dibandingkan tata bahasa Bali halus terlepas dari siapapun lawan bicaranya.
Cai. awake. nani. Ake. kola, siga. cicing. pirate. ndaskleng dst, adalah sebutan “kamu” dan ‘aku” yang lumrah digunakan sehari-hari. Bagi orang Buleleng Bahasa itu tidaklah kasar melainkan menunjukan keakraban dengan orang yang diajak berbicara.
Bukti lain akibat pergaulan yang terbuka adalah penggunaan sebutan kata ‘ana” (saya) dan ‘ente” (anda) dan sebutan bagi temannya adalah dengan kata anjing (cicing nani, pirate kleng) menunjukan bahwa karakter egaliter dan hangat orang Buleleng sangat kuat.
Jika Semeton orang Bali atau setidaknya mengerti Bahasa Bali, setidaknya semeton akan tersenyum tipis membaca kutipan diatas. Mengapa ? Untuk yang tidak bisa berbahasa Bali saya akan jelaskan sedikit tentang arti dari kutipan tersebut. Yen Sing Kasar, Sing Buleleng (Kone) jika diterjemahkan bebas memiliki arti "Jika tidak kasar, maka bukan (orang) Buleleng (Katanya)".
Bagi warga di kabupaten lainnya di Bali, jika membayangkan sosok orang Buleleng maka pertama kali yang terlintas di benak mereka adalah kosakata bahasa yang penuh dengan bahasa yang kasar, biasanya bahasa kasar yang menggunakan istilah kebun binatang. Selain itu bicara orang Buleleng cenderung apa adanya, apa yang dia pikirkan saat itu, saat itu juga keluar dari mulutnya. Tanpa tedeng aling aling menyampaikan apa yang dipikirkan.
Namun benarkah orang Buleleng itu kasar? Pertanyaan tersebut akan membawa kita pada pertanyaan lainnya yaitu, apa itu kasar?
Kasar bagi sebagian besar orang sering diterjemahkan sebagai suatu tindakan, misalnya memukul dan menendang. Kasar juga sering dipahami sebagai komunikasi verbal yang menggunakan kosakata yang tidak sopan cenderung memaki, misalnya dalam bahasa Indonesia kita akan mengenal pekikan "bangs*t" dan "anj*ng" (kami sensor pekikan itu agar terasa seperti benar - benar memaki).
Dalam kasus orang Buleleng, pemahaman kasar yang dimaksud adalah tentang komunikasi verbal dengan kosakata yang tidak sopan seperti yang dijabarkan tadi.
Dalam pergaulan Orang Buleleng tergolong hangat dan ‘easy going’. Suka berkelakar, ceplas-ceplos dan tidak mudah tersinggung untuk hal-hal yang sifatnya tidak prinsipiil. Jika anda sedang bepergian sendiri dan butuh teman ngobrol, menemukan orang Buleleng mungkin suatu keberuntungan.
Kombinasi karakter menonjol inilah yang membuat orang Buleleng relative mudah bergaul dengan orang/kalangan manapun, termasuk dari etnis-ras-bangsa-dan-agama manapun.
Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog ini ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih
Via : lukisankeabadian.blogspot.com/tatkala.co
Foto by : lukisankeabadian.blogspot.com

Comments
Post a Comment