"Tradisi Mabuug Buugan" Tradisi Sakral Yang Dapat Menetralisir Hal Hal Negatif Pada Kehidupan

 


Om Swastyastu semeton Pesona Taksu Bali, kali ini kita akan membahas tentang "Mebuug-buugan" Sebelum itu jangan lupa untuk mengunjungi Instagram kami juga ya @pesona_taksubali.

Tradisi Mebuug - Buugan merupakan permainan rakyat dengan menggunakan media lumpur, memiliki makna filosofi berkaitan dengan hari raya Nyepi. Perayaan Tradisi ini memiliki tujuan memohon anugerah kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) agar umat manusia diberikan kesejahteraan dan keselamatan lahir bhatin. 

Tradisi Mebuug-buugan sesuai dengan namanya “Buug” (bahasa Bali) yang berarti lumpur/kotor yang ada di kawasan atau areal tertentu. Setelah mendapat imbuhan (awalan, akhiran, dan pengulangan) menjadi Mebuug-buugan berarti melakukan kegiatan/aktifitas. Jadi Tradisi Mebuug-buugan adalah aktifitas sekelompok orang, komunitas, masyarakat yang berkaitan dengan lumpur. 

Tradisi Mebuug-buugan merupakan Tradisi Sakral yang dilaksanakan pada hari Umanis Nyepi oleh masyarakat Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Sejarah singkat Tradisi Mebuug-buugan ini telah ada sebelum penjajah masuk Indonesia namun sekitar Tahun 1963 (Gunung Agung meletus), dan dilanjutkan dengan adanya G30S PKI (1965). 



Tujuan tradisi ini ialah untuk menetralisir dari hal-hal atau sifat buruk. Jadi, mebuug-buugan itu manusia divisualisasikan sebagai tanah atau lumpur sebagai wujud Bhutakala (roh-roh jahat). "Kekotoran yang melekat pada manusia itulah yang harus dibersihkan".

Dalam perang lumpur itu, semua pesertanya adalah kaum laki-laki dan perempuan dari semua usia. Mereka berperang bersama-sama dengan menggunakan lumpur saling lempar dalam suasana keceriaan dan kebersamaan. Setelah acara perang lumpur selesai, para warga bersama-sama membersihkan diri dengan berjalan menuju pantai berpasir putih di sisi barat Desa Kedonganan.

Secara sosial masyarakat ingin menunjukkan kebersamaan setelah melakukan Catur Bratha Penyepian selama satu hari penuh dan keesokan harinya dilanjutkan dengan permainan Tradisi Mebuug-buugan ini secara gembira ria dengan tetap mengacu pada hari raya Nyepi sebagai rangkaian ritual yang tidak dapat dipisahkan mengingat nilai-nilai filosofi yang melekat dalam acara tersebut tuntunan adi luhung bagi masyarakat setempat yang diwujudkan dalam sebuah permainan dengan bentuk Tradisi Mebuug-buugan.

Jadi bagaimana semeton ? Bermanfaat tidak informasi dari blog kami ? Jika bermanfaat jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya ya terima kasih.

Via : Pesonataksubali.blogspot.com/warisanbudaya.kemendikbud.co.id/plazarenon.com
Foto By : Rangkuman Google


Comments

Popular posts from this blog

Makna Asu Bang Bungkem Dalam Sejarah Upacara Caru Hindu Di Bali

Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya Menurut Kepercayaan Agama Hindu Di Bali

Makna Mimpi Atau Primbon (Baik Dan Buruk) Menurut Agama Hindu

Bagaimanakah Ciri - Ciri Sebenarnya Dari Zaman Kali Yuga Menurut Kitab Suci Hindu ?

Pantangan Dan Persembahan Yang Wajib Diketahui Dibalik Keramatnya Kajeng Kliwon

Proses Watangan Mapendem/Mengubur Mayat Yang Bangkit Kembali Dalam Calonarang

Urutan Persembahyangan Yang Benar Dalam Agama Hindu Beserta Doa/Mantranya

Apakah Lahir "Melik" Sebuah Anugrah Yang Beresiko Kematian ? Simak Selengkapnya

Beginilah Cara Mengintip Leak Yang Sedang Rapat/Meeting Di Malam Hari

Benarkah Menginjak Canang/Sesajen Di Bali Bisa Celaka atau Mendapat Kesialan ?